Terompet dan Tahun Baru

 

Sebentar lagi umat manusia di seluruh penjuru dunia akan menyambut datangnya pergantian tahun, dari tahun 2009 ke tahun 2010. Orang berjualan terompet sudah bertebaran disepanjang jalan-jalan protokol. Saatnya mereka mengais rezeki dari berkah pergantian tahun ini. Tahun baru selalu identik dengan terompet. Entah dulu siapa yang memulainya, yang jelas sejak saya lahir sampai sekarang terompet selalu mewarnai kemeriahan tahun baru, dari tahun ke tahun. Lantas apa hubungannya terompet dengan tahun baru?. Sampai saat ini belum ada literatur satupun yang mengupas hubungan terompet dengan tahun baru (mungkin saja saya belum menemukan), namun ada baiknya jika kita coba untuk mencari dan menggali, ada apa di balik itu semua?

Dulu terompet terbuat dari kulit kerang dan biasa disebut sangkakala. Sangkakala termasuk dalam perlengkapan perang yang berfungsi sebagai tanda dimulainya atau berakhirnya sebuah peperangan. Lantas dengan berkembangnya teknologi, sangkakala mengalami perubahan baik dari bahan maupun fungsinya. Dari yang berfungsi sebagai perlengkapan perang berubah sebagai alat musik yang bisa menenteramkan atau sebaliknya membuat adrenalin kita meningkat dan ujung-ujungnya tawuran (perang juga kan?!)

Sehubungan dengan fenomena terompet untuk merayakan tahun baru, saya berpendapat bahwa hal itu memiliki makna yang luar biasa bagi kehidupan kita. Sebagaimana fungsi terompet pada masa lalu, yakni sebagai tanda dimulai dan diakhirinya sebuah peperangan, maka hal itupun sama namun dengan kondisi yang berbeda. Kalau dulu perang dalam arti yang sebenarnya namun sekarang bisa diartikan sebagai perang untuk melawan kemiskinan, kebodohan dan sebagainya. Ketika terompet dibunyikan ramai-ramai dipenghujung tahun, itu bertanda bahwa peperangan telah usai, saatnya kita untuk interopeksi diri. Kita berada di pihak yang menang atau sebaliknya pihak yang kalah atau malah menjadi seorang pecundang yang lari dalam medan laga (baca: lari dari kenyataan hidup).

Kehidupan adalah sekumpulan peristiwa atau rangkaian kejadian yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya, di dalamnya berisi tentang pilihan-pilihan serta amanah yang nanti pada hari penghisaban akan kita pertanggungjawabkan. Di antara amanah itu adalah manusia dimulyakan atas mahluk lainnya (QS. Al-Israa’: 70), diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (QS. At-Tiin: 4), mempunyai potensi akal dan pikiran serta dijadikannya khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30-33), ditundukkannya segala yang dilangit dan di bumi untuk manusia (QS. Al-Baqarah: 29; Luqman: 20; al-Jatsiyah: 13).

Lantas dari sekian banyak amanah yang sekaligus potensi yang di beri Allah itu, apakah sudah kita pikirkan bagaimana mempertanggungjawabkannya kelak?. Sementara hari ini kita masih berleha-leha dengan kehidupan kita, pikiran kita masih belum optimal kita gunakan, potensi kita masih sering banyak menganggurnya sehingga kita belum bisa membuat perubahan dalam kehidupan kita sendiri apalagi lingkungan kita. Seorang psikolog Austria, Viktor E. Frankl (1905-1997) mengatakan bahwa “ketika kita sudah tidak mampu lagi mengubah situasi, kita harus tertantang untuk mengubah diri kita sendiri.”

Apakah yang harus dirubah dari diri kita? Sikap, mental serta pola pikir yang nyaris kerdil karena kita telah kehilangan kesadaran diri bahwa kita adalah mahluk yang baik, mulya (bahkan malaikatpun diperintahkan untuk sujud kepada manusia /QS. Al-A’raaf: 11), wakil Allah dimuka bumi (subhanallah) dan seabrek potensi lainnya. Dalam bahasa yang dipakai oleh Ary Ginanjar Agustian (2005) dalam bukunya ESQ Rahasia Sukses Meraih Kecerdasan Emosi dan Spiritual berdasarkan Rukun Islam dan Rukun Iman adalah kembali kepada fitrah kita sebagai manusia dengan membawa misi untuk memakmurkan bumi. Lantas, apakah mungkin kita bisa memakmurkan bumi kalau kemakmuran diri kita saja masih belum jelas, apakah bisa kita memberi makan mereka yang kelaparan kalau perut kita saja masih keroncongan, apakah bisa kita menjadi manajer bagi lingkungan kita kalau membawa diri sendiri saja kita masih kurang becus.

Muhammad Zuhri (2007) dalam bukunya Mencari Nama Allah Yang Keseratus mengatakan bahwa kita adalah manajer yang dipersiapkan oleh Allah dengan diberi aset 99 asma’ul husna (sifat ketuhanan, yaitu: cinta kasih, adil, penyayang, sabar, penyantun dll) demi kemakmuran alam semesta. Setiap mukmin dituntut untuk menjadi saksi bahwa Allah itu ada. Maka jangan sampai kita mendengar ada orang sakit akhirnya meninggal sebelum terobati, ada orang lapar akhirnya mencuri, ada orang teraniaya akhirnya mati sebelum sempat tertolong. Kita berdosa. Sebab setiap orang yang menderita sakit, lapar, atau teraniaya pasti dia berharap, berdoa, dan jika harapannya tidak terwujud , bisa jadi ia bersyak wasangka,”Tuhan ini ada tidak ya? Saya merintih meminta, tapi Dia tidak mengutus siapapun dari hamba-hamba-Nya untuk menyelamatkan saya. Ribuan kali saya memohon tapi Dia tidak menjawab. Apakah doa-doa saya tidak didengar Tuhan ataukah memang Tuhan itu tidak ada?”.

Mengapa kita tidak menjadi saksi bahwa Tuhan itu ada; tandanya kita datang membelikan obat kepada orang yang sakit, memberi makanan pada orang yang kelaparan, atau menolong orang yang teraniaya? Siapapun di antara kita yang mendengar penderitaan tetangga, hendaklah mengulurkan bantuan, memberi solusi, mewujudkan harapan dan doa-doanya. Dengan demikian, kita telah dipakai Tuhan sebagai saksi bahwa Tuhan itu ada.

Kembali pada persoalan perang. Lantas siapakah yang harus kita perangi untuk saat ini? Jawabannya adalah diri kita sendiri. Karena kita telah kehilangan jati diri kita sebagai manusia pilihan, manusia yang mulya, khalifah Allah yang dianugerahi dengan beragam potensi yang luar biasa. Yang seharusnya dengan potensi itu telah menjadikan kita sebagai manusia sukses di bidang kita sehingga kitapun mampu dan berhasil menjalankan misi yang telah diamanahkan Allah kepada kita, yaitu sebagai khalifah-Nya untuk kemakmuran alam semesta.

Oleh karena itu saat terompet tahun baru terdengar, maka kita harus bersiap diri untuk melanjutkan peperangan, melanjutkan tugas kita sesuai dengan bidang kita masing-masing. Seorang pelajar/mahasiswa ataupun santri dituntut untuk belajar, ngangsu kawruh, memenuhi pundi-pundi otaknya dengan beragam ilmu pengetahuan dan wawasan. Dituntut untuk selalu berpikir kritis terhadap beragam persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya, mendiskusikannya dan mencarikan solusi yang tepat karena dipundak para pelajar/mahasiswa maupun santri, berjuta masyarakat menaruh harapan besar bagi kemakmuran bangsa ini.

Bagi seorang guru, perjuangan bisa dimulai dengan menanamkan pikiran bahwa siswa adalah amanat, amanat yang diberikan oleh orang tua untuk diajar, dididik, dikelola agar menjadi manusia yang sempurna. Karena anak adalah amanah Allah kepada orang tua, bila diabaikan akan menjadi malapetaka, bila dididik dengan baik akan menjadi investasi (Soehadi Djami’in, 2004). Maka seorang guru yang profesional adalah seorang guru yang mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, tanggung jawab untuk mendidik dan membimbing sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut bukan hanya sekedar menjalankan aktivitas belaka tanpa tujuan yang jelas. Datang, masuk kelas, memberi tugas, baca koran, pulang dan gajian.

Abdul Munir Mulkhan (2007) dalam bukunya Satu Tuhan Seribu Tafsir memberikan wacananya terutama untuk guru PAI bahwa tugas utama mereka adalah bagaimana menyelenggarakan pembelajaran yang memungkinkan bagi para siswa untuk memperoleh pengalaman berketuhanan yang bertumpu pada kesadaran ilahiah. Kesadaran ilahiah adalah perilaku yang diharapkan bisa dihasilkan dari proses pembelajaran PAI sebagai akar dari kompetensi kepribadian. Dan cara yang paling efektif adalah dengan mendorong siswa untuk menemukan sendiri pengalaman ilahiah melalui kisah-kisah historis, hubungan dengan alam, dan manusia sesamanya. Jika seseorang memiliki kesadaran pentingnya ilmu agama Islam maka tinggal sediakan saja perpustakaan, mereka bisa membaca sendiri lebih cepat dari semua tehnik dan praktek pembelajaran.

Begitupun bagi mereka yang mencoba untuk berkarya di bidang lainnya. Tidak ada alasan untuk gagal karena kita adalah sebaik-baik mahluk, wakil Tuhan di muka bumi, itu berarti bahwa kita adalah manusia pilihan, manusia yang dipersiapkan oleh Tuhan untuk mencapai keberhasilan, mencapai kesuksesan. Ombak dan karang hanyalah bagian cerita yang malah akan membuat cerita kehidupan kita semakin menarik dan indah. Halangan dan rintangan adalah upaya Allah untuk mendidik kita, mempersiapkan mental dan jiwa kita, bukan sebuah hambatan. Ibarat pohon, rintangan adalah angin yang dihembuskan oleh Allah untuk memperkuat akar dan dahannya agar kelak pohon itu mampu menopang buahnya yang lebat. Intinya tidak ada alasan untuk tidak menjadi juara. Sebagimana Dewa 19 dalam syair lagu “Juara Sejati” :

bila satu bintang telah terlahir

tak akan ada yang bisa

menutupi sinarnya

walau kilaunya sembunyikan terangnya

hidup memang sebuah perjuangan

meskipun tak dianggap

sang juara yang sejati

tak akan pernah mati

kita lahir untuk menang

raihlah kemenangan

sesungguhnya perjuangan sudah dimulai

Sebagai akhir kata saya mengutip firman Allah dalam surat al-Ankabut: 69

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut: 69)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm: 39)

Gresik, 27 Desember 2007, 19.53 WIB

Tedjamaja

About these ads

One thought on “Terompet dan Tahun Baru

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s