Kumbang dan Kekagumanku

Begitu banyak manusia yang kagum dengan binatang kecil yang pernah dianggap sebagai inspirasi awal lahirnya seni arsitektur, penghasil madu yang teramat manis yang kaya akan manfaat. Lebah, ya lebah binatang kecil ini begitu dikagumi sehingga banyak manusia yang menjadikan aktivitas kehidupan lebah menjadi sebuah falsafah hidup demi tercapainya kehidupan hakiki, kehidupan yang sejati sesuai dengan  hati nurani  manusia. “Hanya mengambil yang terbaik dan akan menghasilkan sesuatu yang baik pula”. Lebah makan dari saripati tumbuhan dan ia akan mengolahnya menjadi madu yang manis. Mari kita renungkan, lebah makan dari makanan yang bersih, murni dan ia hanya mengambil sedikit saja, sekedar  untuk memenuhi kebutuhannya saja demi menyambung hidup sementara sisanya (bahkan jauh lebih banyak) ia simpan dalam sarangnya menjadi madu terbaik  yang akan ia persembahkan bagi  manusia, mahluk yang begitu dimulyakan  oleh-Nya.  Subhanalloh….

Namun tidak demikian dengan kumbang meskipun kumbang juga juga mempunyai aktivitas  kehidupan yang hampir sama dengan lebah tapi kebanyakan manusia memberikan penghargaan yang negatif terhadap kumbang. Kumbang sering dikonotasikan  sebagai aktor antagonis dalam sandiwara kehidupan ini, ia dianggap sebagai biang masalah bagi hancurnya kehidupan bunga. Kehadiran kumbang diartikan sebagai keguguran (baca: kematian) bagi bunga. Dengan bahasa lain habis manis sepah dibuang. Benarkah demikian??… Sebegitu naifnyakah kumbang??…

Coba kita renungkan kembali sandiwara yang diperankan oleh kumbang dan bunga ini. Benarkah sedemikian jahatnya kumbang? Atau sedemikian merananya sang bunga setelah kehadiran sang kumbang? Padahal sesungguhnya dibalik gugurnya kelopak sang bunga, kumbang telah memberikan kehidupan yang baru lagi bagi bunga yang sarat dengan harapan yang jauh lebih besar lagi, yaitu kehidupan buah yang kelak akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Supplier vitamin dan mineral yang akan menjaga kesehatan manusia. Gugurnya kelopak sang bunga berarti kehidupan bagi sang buah. Subhanalloh… Betapa besar peran yang dimainkan oleh sang kumbang dalam kesuksesan sang bunga untuk melanjutkan kehidupannya yang baru lagi, yaitu kehidupan buah. Betapa luar biasanya kumbang, betapa ikhlasnya ia menjalani kehidupan ini meski harus dicaci maki oleh sekian banyak  manusia  yang  belum  mampu  menangkap pelajaran yang diberikan oleh Tuhan  melalui kehidupan kumbang ini. Sungguh luar biasa bukan?!

Mari kawan, kita semua belajar dari sang kumbang,  belajar  untuk senantiasa bersabar  ditengah caci maki  orang lain  demi menjalankan amanah yang diberikan oleh Tuhan, belajar selalu ikhlas dalam menjalani kehidupan ini, belajar untuk selalu mencari rezeki dengan cara yang baik, cara yang bersih, cara yang tidak merugikan orang lain, belajar untuk selalu istiqomah dalam mencari rahmat dan ridho-Nya, pantang menyerah dalam upaya untuk meraihnya. Dan marilah kita juga belajar untuk mengambil sikap yang telah dicontohkan oleh sang bunga bahwa kejatuhan (kegagalan) kita sebenarnya adalah awal dari kehidupan baru kita yang jauh lebih baik dan lebih besar lagi manfaatnya buat kita dan orang-orang disekitar kita. Percayalah dan percayakan semua pada-Nya.

Semoga Allah meridhoi langkah kita semua. Amin….

tedjamaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s