Super Marketer

Orang bilang hidup harus jelas, punya tujuan tidak asal grusa-grusu alias ngawur. Orang-orang terpelajar bilang hidup kudu mesti punya cita-cita. sementara orang-orang tradisionalis bilang hidup hanya sekedar mampir minum habis itu mati, klenger tak berdaya. dan Habiburrahman dalam novel best seller-nya mengatakan bahwa hidup harus direncanakan sebaik mungkin, dicita-citakan alias dirumuskan lalu diusahakan semaksimal mungkin untuk diwujudkan. Siiip…
Menyikapi masalah ini, mungkin semua pihak setuju dengan pendapat terakhir tersebut. tapi bagaimana cara kita mengaplikasikannya?…Mari kita belajar dari para salesman minyak wangi, sabun dll atau bahkan kalau perlu kita belajar kepada mbok jamu gendong yang biasa berjalan menyusuri jalan-jalan keluar masuk desa untuk menjajakan dagangannya. Lantas apa hubungan cita-cita dengan para salesman atau mbok jamu?
Sekarang mari kita amati kehidupan mereka, mbok jamu misalnya. Sore hari, para mbok jamu ini sudah sibuk melakukan prepare, menyiapkan bahan-bahan produksi untuk proses pengolahan berikutnya. Pada tahap awal ini sesungguhya tidaklah sesederhana ini, sebelum semua ini dilakukan para mbok jamu harus membuat perencanaan yang sangat matang, diantaranya adalah menentukan target areanya terlebih dahulu, bagaimana tingkat perekonomian penduduknya? Bagaimana penerimaan masyarakat daerah tersebut atas kesadarannya untuk menjaga kesehatannya? Berapa banyak kompetitor disana? sampai membuat estimasi keuntungan dan kerugiannya? Njelimet ya…semrawut ga karu-karuan tapi ya memang begini seperti kehidupan sendiri yang memang kadang semrawut.

Jadi berbicara mengenai tujuan hidup, cita-cita sudah seyogyanya kalau kita mesti belajar pada mereka, orang-orang hebat yang tidak banyak bicara melainkan orang-orang yang selalu semangat untuk berusaha dan berusaha mewujudkan harapannya, entah apa yang nanti terjadi? Bagi mereka kehidupan itu bukan punya kita melainkan semua adalah mutlak hak Tuhan. keberhasilan itu punya Tuhan dan kewajiban kita hanyalah berbuat sebaik mungkin yang Tuhan harapkan pada kita, yaitu manusia yang rahmatan lil alamin, manusia yang punya banyak manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang disekitar kita. Manusia yang bisa meraih kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Bukankah tetua kita sering bilang, “manusia akan memanen sesuai apa yang sudah mereka tanam”. Bukankah Tuhan hanya memberi tak lebih dari apa yang sudah kita usahakan?! BRAVO mbok jamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s