Para Begundal

Satu hal yang paling kubenci dalam hidupku akhir-akhir ini adalah saat dimana aku selesai menjalankan tugas, setelah pasien terakhirku beranjak meninggalkan ruang praktek. Ketika lampu-lampu sudah akan aku matikan, saat tubuhku sudah mulai terasa lelah, pikiran yang sedikit kendor setelah urat syarafku menegang karena konsentrasiku dalam mendiagnosa penyakit pasien yang datang berobat kepadaku, wajahnya nampak letih dengan sisa-sisa harapan mereka datang padaku mempercayakan kesembuhannya pada keahlianku meski aku sadar bahwa aku hanyalah perantara semata. Ketika bau keringatku sudah mulai tercium sedikit apek karena sejak pagi tidak mandi, semenjak pulang dari rumah sakit aku langsung menuju tempat praktek karena sudah banyak pasien yang menunggu. Karena saat itu adalah saat aku akan di jajah oleh begundal-begundal tengik yang merenggut kehormatan dan harga diriku. Aku di pasung dan dicengkeram laksana seorang tawanan perang dan aku akan menuruti apa saja yang diinginkannya. Terkadang aku ingin berlari, bersembunyi di belakang pasien terakhirku, tapi seberapa hebatnya penyamaranku pasti mereka akan mengetahui, penciuman mereka sangatlah tajam persis anjing pelacak yang mengendus-endus buruannya.

Di hadang. Mula-mula di todong dengan beragam brosur. Di mintai tanda tangan. Ini tidak seberapa menggangguku karena apalah arti segores pena dalam selembar kertas bagiku. Tapi mereka semakin melonjak dan kurang ajar mempermainkan wibawaku, harga diriku, kehormatanku bahkan idealismeku sudah benar-benar luluh lantak, remuk berkeping-keping di buatnya.

Seperti saat ini, ketika pasienku baru saja menutup pintu ruang praktek, aku sudah melihat segerombolan begundal itu berderet di kursi panjang warna coklat dengan bantalan warna putih di ruang tunggu pasien. Mereka sibuk menyiapkan brosur-brosur dan kertas tanda kunjungan di tangan sambil berbincang dengan rekan yang berada di sebelahnya, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu jelas dan teramat sulit bagiku untuk menerjemahkan gerakan mulut mereka, mungkin mereka sedang membicarakan strategi jitu untuk menghancurkanku.

“Permisi dokter,”

Kata salah satu dari mereka saat tahu aku membuka pintu ruangan siap untuk pulang. Terpaksa aku kembali ke dalam dan mengambil tempat duduk, tas yang tadi sudah aku jinjing kuletakkan kembali di samping kursiku, AC kembali aku nyalakan, wuuusss…udara yang sejuk kembali memenuhi ruangan bercat putih berukuran 4×5 m. Pengharum ruangan yang aku gantungkan pada AC mulai bekerja, aromanya memenuhi ruangan seketika, tetapi tetap saja hambar bagiku karena bau begundal ini sudah terlebih dahulu menyerangku, apek, bacin, amis semua bercampur aduk menjadi satu membuatku ingin muntah. Aku benci mereka. Benci dengan profesinya bukan orangnya karena bagiku semua orang adalah sama di hadapan Tuhan, hanya keimanan dan ketakwaannya saja yang akan membedakannya. Sebenarnya bisa saja aku lari, atau sekedar ku goreskan penaku pada masing-masing kertas yang mereka bawa, tapi terasa sulit bagiku untuk melakukannya karena jiwaku sudah terpasung, kemerdekaanku sudah terampas. Muak aku dengan diriku sendiri.

“Apa kabar dokter?” ujar Mona salah satu anggota dari begundal itu berbasa-basi. Dialah salah satu anggota begundal yang paling cantik tapi paling aku benci.

“Baik,” Jawabku acuh.

“Gimana dokter, enak kuenya?” Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Bukankah kamu memberikan kue itu buat anak dan istriku bukan buat aku, ya tanya orang rumah dong!” Gumamku dalam hati kesal.

Mereka tiada kapok-kapoknya setelah pemberian mereka selalu aku tolak. Tentu saja dengan alasan bahwa profesiku tidak memperkenankan aku menerima pemberian dari siapapun karena aku tidak ingin melukai perasaan siapapun. Dan kini mereka merubah strategi dengan melumpuhkan aku dari belakang, dan akhirnya pertahananku benar-benar jebol oleh serangan mereka.

Ceritanya begini, pernah suatu hari aku di iming-imingi mereka sejumlah nominal yang andai saja aku mau menerimanya mungkin cukup untuk membangun sebuah villa mewah dipuncak. Dengan dalih dana promosi atas obat yang aku resepkan. Tentu saja dengan hitung-hitungan yang sangat profesional seperti pebisnis lainnya yang selalu berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tapi aku sama sekali tidak tertarik, aku tidak mau menjual harga diriku, menjual kehormatanku, menukar idealismeku yang telah aku bangun selama bertahun-tahun hanya dengan beberapa lembar uang yang pada akhirnya juga akan aku buang menjadi kotoran yang menjijikkan. “Jika pikiran Anda hanya tertuju pada apa yang masuk dalam perut Anda maka harga diri Anda persis seperti apa yang keluar dari perut Anda.” Aku masih teringat jelas dengan kalimat ini yang dulu pernah aku tulis untuk memberi kesan dan pesan dalam agenda kelas semasa SMA. Sebagai orang yang berprofesi menghargai hidup dan kehidupan, menindas orang-orang susah adalah pantang bagiku. Karena Tuhan menciptakan aku sebagai khalifah-Nya, sebagai wakil-Nya dimuka bumi ini untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, sungguh sebuah kehormatan yang teramat mulia bagiku, mungkinkah aku akan mengkhianatinya?.

Karenanya aku acuhkan saja tawaran mereka, iming-iming mereka. Tapi rupanya para begundal itu tidak mau menyerah. Pernah beberapa waktu yang lalu aku melihat gelagat aneh pada diri Mona, tak biasanya ia datang ke ruang praktekku paling akhir dengan pakaian seksi yang tentu saja akan membuat laki-laki manapun akan terpesona, terbuai oleh kemolekan tubuhnya yang aduhai. Jujur saja termasuk diriku. Wajah cantik tinggi semampai, tubuhnya montok padat berisi, kulit kuning langsat dengan bulu-bulu halus dan dada yang di biarkan sedikit menyembul membuat jakunku naik turun. Bahasanya lembut dengan gaya yang dibuat-buat, sorot matanya yang tajam seolah berkata, “malam ini aku adalah milikmu dokter, lakukan saja apa yang ingin dokter lakukan.” Belum lagi bau parfumnya, menyengat tajam membangkitkan gairah. Aku terbengong dibuatnya, seketika itu bayangan istriku yang cantik dengan lingre hitam yang biasa ia kenakan saat kami ingin berbagi kasih, berbagi cinta melintas di hadapan pelupuk mata membuatku ingin segera mengakhiri pertemuanku dengan Mona untuk segera pulang memeluk istriku dan melampiaskan segala cinta dan kasih sayangku padanya. “Maaf , aku ada janji saat ini, sign saja ya..” Aku melihat ada gurat kekecewaan pada wajah cantik Mona sebelum ia menyodorkan kertas untuk aku tanda tangani dan pergi meninggalkan tempat praktekku. “Aku tidak akan pernah mengambil apa yang bukan jadi hakku, ya Alloh berilah hamba kekuatan untuk menggenggam iman dalam hatiku,” ujarku pelan dalam hati.

Namun beberapa saat kemudian tanpa sepengetahuanku Mona si begundal itu mendatangi rumahku dengan membawa kue yang lumayan banyak kepada istriku dan tentu saja istriku menerimanya dengan senang hati karena pantang bagi keluargaku menyakiti perasaan orang lain apalagi menolak pemberian mentah-mentah tentu itu akan sangat menyakitkan. Jelas saja istriku menerimanya dengan senang hati tanpa ada perasaan curiga apa-apa. Dan itu tidak terjadi sekali saja, berulang kali Mona datang kerumahku hingga naluri kewanitaan istriku yang penuh dengan perasaan terbuai oleh segala “kebaikan” Mona, hingga pada suatu malam ketika aku baru saja pulang dari tempat praktek, istriku merajuk manja sambil menyodorkan segelas air mineral, wajahnya yang cantik dengan rambut yang di biarkan tergerai memanjang, bau wangi parfum yang kubelikan kemarin samar-samar menyentuh lembut hidungku membuat naluri kelaki-lakianku bangkit.

“Pa…”

Katanya manja. Aku diam sambil meneguk air dingin perlahan dan nyess… setelah membasahi kerongkonganku.

“Tadi Mona datang kesini, katanya kalau bulan ini dia tidak memenuhi target ia akan di keluarkan”.

Sedikit aku tersentak mendengar penuturan istriku.

“Terus.”

“Terus…ya papa bantu deh, kasihan dia pa, dia itu tulang punggung keluarganya bapaknya sudah lama meninggal sementara ibunya hanya bekerja sebagai buruh tani.” Ujar istriku sambil meletakkan tangannya di pundakku seolah ia sangat tahu dengan keluarga Mona, sambil mengeser duduknya merapat. Bau parfum semakin menyengat membangkitkan gairahku.

“Mau ya pa?!”

“Ya coba nanti papa bantu tapi papa tidak bisa bantu banyak lho…ya sesuai dengan kebutuhan” jawabku sambil tanganku melingkar memeluk lehernya dan kecupanku mendarat lembut di pipinya yang ranum.

Sebulan kemudian Mona datang lagi ke rumah dengan membawa motor baru sebagai hadiah ulang tahun istriku, aku tersontak kaget!. Aku bersikeras untuk mengembalikan motor itu, tapi istriku rupanya sudah termakan oleh hasutan begundal tengik yang cantik itu. Kontan saja aku marah dan keributan pun tak bisa dihindari. Istriku uring-uringan terus hingga akupun terpaksa mengalah. Hilang sudah idealismeku saat itu, persis seperti kejadian Adam dan Hawa waktu memakan buah terlarang dan di keluarkan dari sorga. Aku merasa telah gagal membina istriku, membina keluargaku.

Mona semakin sering mengunjungi istriku dan selalu membawa buah tangan, oleh-oleh, ramuan ampuh untuk melumpuhkan perasaan istriku sehingga istriku semakin akrab dengannya, kadang buah, terkadang kue kalau tidak begitu ia membawa souvenir yang lucu dan cantik-cantik. Serta tidak lupa memberi informasi kepada istriku bahwa penulisan resepku masih kurang sekian boks untuk melunasi motor hadiah tempo hari.

“Ya Tuhan, berapa lama lagi aku harus mengorbankan orang-orang susah yang sedang Kau uji kesabarannya, sampai kapan aku akan jadi begundal penghisap darah rakyat yang sudah penuh derita. Ampuni hamba ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Karuniakanlah kepada hamba seorang istri yang menentramkan hati hamba dan jadikanlah hamba imam bagi orang-orang yang bertakwa. Amin ya robbal’alamin.” Tak terasa air mataku menetes deras menyesali segala yang terjadi, rasanya tak ingin aku bangkit dari sujudku ini sampai Tuhan benar-benar mau mengampuni dosaku serta ketulusan hati orang-orang yang telah jadi korban keserakahan begundal-begundal tengik sepertiku untuk memaafkan segala khilafku.

Lamongan, 16 januari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s