Gus Dur-ku Gus Dur Anda Gus Dur Kita

Innalillahi wa inna illahi rojiun, telah berpulang ke rahmatulloh mantan presiden RI yang keempat, mantan ketua umum PBNU, bapak bangsa, tokoh teladan kami KH. Abdurrahman Wahid pada hari Rabu pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta. Semoga Beliau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin…

Beliau memang telah wafat, tetapi itu hanya jasadnya semata sementara ruh keilmuannya, semangat perjuangannya akan tetap hidup bersama orang-orang yang tetap konsen dan simpati padanya, pada cita-cita luhurnya. Gus Dur menginginkan agar Islam memberikan kesempatan lebih luas kepada semua orang untuk berkarya tanpa dibatasi oleh apapun, seperti identitas politik dan etnik.

Islam, bagi Gus Dur, mencapai titik kemajuan tertinggi justru ketika seluruh ekspresi dan karya cipta orang perorang dan kelompok diberi hak hidup yang sama betapapun menyimpangnya atau dianggap bid’ah. Islam juga memberikan kesempatan kepada siapapun untuk terlibat langsung dalam pemajuan Islam itu sendiri. Merespon balik dengan cara menulis atau menciptakan karya sebanding adalah satu-satunya cara yang dibolehkan jika seseorang atau kelompok tidak menyetujuinya. Situasi seperti itulah ketika Islam mencapai titik tertinggi. Dan itulah cita-cita kebangkitan Islam. (Gus Dur: Islam Kosmopolitan. 2007)

Ada begitu banyak hal yang bisa kita contoh, kita teladani dari seorang yang sudah kita anggap wara’ dalam hal keilmuan namun Beliau (Gus Dur) tak pernah berhenti untuk meneguk tetes demi tetes ilmu, sebagaimana yang diceritakan oleh Agus Maftuh Abegebriel dalam pengantar buku Islam Kosmopolitan Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi kebudayaan. Agus menceritakan bahwa saat ia (Agus) membesuk Gusa Dur di RSCM dengan kondisi yang sangat lemah, Beliau masih tidak mau berhenti dalam “membaca” informasi ilmiah dari sebuah buku. Sebagaimana yang disaksikan oleh Agus saat itu, Beliau sedang asyik “membaca” sebuah buku yang berjudul “Deception Point” karya Dan Brown. Buku best seller tersebut beliau baca dengan mencerna kalimat demi kalimat dalam versi audio books yang diputar dengan teknologi lawas-kalau tidak boleh dikatakan teknologi kuno-berupa media pita kaset.

Bukan hanya itu, masih cerita Agus, dalam kondisi lemah seperti itu Gus Dur masih sangat antusias megajak Agus diskusi tentang al-assalah (otentitas tradisionalisme) dan al-haddasah (modernisme). Dan tidak berapa lama beliau tiba-tiba langsung membuat sebuah konklusi yang mengagetkan syaraf akademik Agus (begitu Agus bercerita), yaitu bahwa ternyata sikap ortodoks itu sangat positif dan merupakan opsi terbaik, sedangkan gaya modern itu harus ditolak dan dihindari. Belum sempat sirna kekagetan saya (Agus) terhadap kesimpulan mendadak Gus Dur tersebut, beliau langsung memberikan eksplanasi dengan “meriwayatkan” keterangan dari KH. Anwar Musaddad bahwa sesungguhnya kedua istilah (ortodoks dan modern) tersebut mempunyai akar philology bahasa Arab. Ortodoks berakar dari kata “irtadloka” (jika tanpa syakal dibaca ortodlok) yang “berarti Alloh merihoi anda”, sedangkan “modern” berasal dari kata “mudlirrin” yang mempunyai makna “berdampak negative dan membahayakan”.

Sakit serius yang sedang beliau derita tidak menghalangi gaya khas canda akademiknya yaitu dengan mengadopsi guyonan model epistemology santri dalam menjelaskan sebuah anekdot pesantren dalam menghadapi fenomena sosial yang tak terbatas dikaitkan dengan teks-teks keagamaan yang terbatas sebagaimana menjadi adagium Ibnu Rusyd dalam preamble kitab Bidayat al Mujtahid wa Nihayat al Muqtasid-nya.

Gus Dur layaknya sebuah teks yang memiliki multi tafsir dan membahasnya tidak mudah, baik sebagai budayawan, intelektual, ahli strategi maupun seorang humoris. Namun demikian, letak obyektifitas Gus Dur hanya diketahui oleh dirinya sendiri, para pengkaji dan peneliti yang berada pada wilayah luar dirinya mensyaratkan metodologi dan pendekatan yang komprehensif. Sehingga pembahasan dan penafsiran mengenai dirinya tidak berlebihan dan mampu menangkap sisi obyektivitasnya.

Sekali lagi saya katakan Gus Dur memang telah wafat tetapi itu hanya jasadnya belaka sementara ruh keilmuan, keteladan dan semangatnya untuk memwujudkan cita-cita luhur Islam akan tetap mengendap, membeku jauh di dalam sanubari kami, jauh di dalam ruh bangsa ini dan dalam hati para murid dan santrinya untuk tetap konsen melanjutkan perjuangan beliau.

Selamat jalan Gus Dur, kami semua kehilangan Anda, ayah buat kami semua, guru besar kami dalam kehidupan ini. Kami sadar, bahwa semua pasti akan kembali kepada asalnya, Sang Pencipta, pemilik seluruh alam semesta tapi izinkan kami untuk sedikit menitikkan air mata kami sebagai bentuk ketakziman kami kepadamu, sebagai bentuk penyesalan kami atas sedikit ilmu yang bisa kami ambil darimu padahal sedemikian luas keilmuanmu. Sekali lagi SELAMAT JALAN BAPAK BANGSA, ALLOH AKAN MEMBERIKAN TEMPAT YANG INDAH UNTUKMU. AMIN….

Surabaya, 31 Desember 2009

Tedjamaja, yang begitu takzim meneladanimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s