Jangan Jadi Pencuri di Rumah Sendiri

 

Emang ada yang jadi pencuri di rumahnya sendiri?? Mungkin pertanyaan seperti itu yang ada dalam pikiran sahabat-sahabatku semua.  Sahabat, mungkin tanpa kita sadari kita telah banyak menghujat begitu banyak orang setiap harinya terutama setelah kita melihat televisi atau membaca berita di media mengenai berbagai macam kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. Bahkan banyak juga diantara kita yang suka berteriak keras,”maling…!” dalam berbagai aksi demo yang dilakukan.

Sahabat, jujur saja saya kadang sedih melihat fenomena yang terjadi di negeri yang kita cintai ini. Hidup semakin susah, kebutuhan bahan pokok semakin melambung tinggi menjepit leher kita sementara upah pegawai begitu minim serta lapangan pekerjaan yang semakin terbatas.

Dan berawal dari fenomena inilah saya melihat pencurian-pencurian itu sering terjadi di rumah kita pada anak-anak kita sendiri, darah daging yang begitu kita cintai. Bukan hanya karena terbelit masalah ekonomi melainkan karena sikap hidup yang cenderung hedonis, konsumtif. Bagaimana bisa??

Begini, berawal dari ekonomi sulit itulah sehingga banyak istri (padahal mereka memiliki anak balita) yang harus ikut-ikutan cari nafkah demi tegaknya ekonomi keluarga karena kalau tidak begitu dapur mereka tidak bisa ngebul alias tidak makan. Memang beginilah kenyataan yang ada.

Sementara ada juga perempuan yang demi gengsi, mengejar karier atau apalah itu namanya, begitu gigih beraktivitas untuk mengumpulkan pundit-pundi harta demi memenuhi kebutuhan mereka yang seabrek karena gaya hidup mereka yang hedonis, konsumtif. Sehingga bagi mereka yang memiliki anak balita-pun rela untuk mengorbankan anaknya demi gengsi dan lain sebagainya itu. Ironis memang tapi begitulah kenyataan yang ada.

Bayi mungil kita yang sudah sekian lama kita nanti kehadirannya, buah hati yang lucu dan imut-imut itu bukan hanya sekedar buah cinta kita melainkan dia merupakan anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada kita, yang harus dijaga serta dirawat sebaik mungkin. Dan untuk menjaga buah hati kita itu, Tuhan-pun memberikan segala kebutuhan bayi tersebut, diantaranya adalah ASI.

Lha, kalau seorang balita yang mestinya harus mendapatkan ASI setiap 1 jam sekali (kurang lebih) lantas harus digantikan dengan susu kaleng (formula) karena ditinggal ibunya beraktivitas di luar rumah (bekerja), bukankah ini telah melanggar hak anak. Bukankah ibu tersebut telah mengambil sesuatu yang seharusnya mutlak jadi (hak) milik sang anak. Apa ini tidak termasuk dalam kategori mencuri barang (ASI) si anak. Coba kita hal ini kita renungkan.

Dan anehnya terkadang kita tidak peduli bahkan kita memiliki anggapan bahwa susu formula yang harganya muahal itu jauh lebih bagus kualitasnya dibanding dengan ASI yang nota bene produk alami ciptaan Tuhan. Astagfirulloh…

Berikut saya kutipkan artikel dari saudara Bahtiar HS. Yang dmuat dalam Buletin Al-Mu’tashim edisi 114/tahun X, Juni 2006. Beliau mengatakan bahwa menyusui bukan saja sekedar proses memberikan ASI pada bayi. Bukan saja berhubungan dengan aspek kesehatan. Lebih dari itu, ia juga memberikan dasar bagi kemampuan anak dalam kecerdasan intelktual.

Disamping itu, menyusui merupakan pendidikan emosional, spiritual, dan sosial bagi bayi. Menyusui secara langsung melibatkan proses psikologis yang positif. Secara psikis, seluruh tubuh ibunya merupakan pengirim pesan tentang keadaan hati ibunya. Suhu tubuh, permukaan payudara, dan dekapan ibu mengabarkan kepada anak mengenai suasana hati ibu. Detak jantung memberikan petunjuk perasaan ibu pada anak. Juga usapan dan belaian iu, tepukan tangan, hisapan, gigitan pada payudara, dan tangisan anak. Semua mengenalkan anak pada perubahan-perubahan pada lingkungan psikisnya. Anak belajar mengenai manusia lain, dalam hal ini ibunya sebagai orang terdekat dengan dirinya. Anak belajar berkomunikasi. Anak belajar cinta. Ini semua merpakan dasar paling awal dari akhlak alami.

Namun kenyataan yang terjadi sekarang begitu banyak ibu yang mempercayakan nutrisi anaknya pada susu formula (sapi), yang mana hal tersebut akan menjadikan anak jauh dari ibu dan mulai belajar mendapatkan ASI lebih dari yang diperlukannya; alias anak belajar rakus. Itu semua karena ibu harus dituntut untuk kembali beraktivitas (bekerja) ke ruang publik. Tuntutan ekonomi. Tuntutan emansipasi. Karena cuti besar hanya diperbolehkan maksimal 3 bulan itupun sudah dipotong 1 bulan pada saat persiapan kelahiran, jadi hanya ada kesempatan 2 bulan saja memberikan ASI, itupun kalau diberi ASI bukan susu formula.

Sahabat, ingatlah masa depan negeri, bangsa dan agama kita ada ditangan anak-anak kita maka didiklah sebaik mungkin guna terciptanya generasi muslim yang rahmatan lil’alamin.

Tedjamaja, mimpi jadi orang bijak

Surabaya, 21 Januari 2010

2 thoughts on “Jangan Jadi Pencuri di Rumah Sendiri

    • saling mengingatkan ya..sebagai ajang instropeksi diri untuk mencapai kesempurnaan hidup. thx atas kunjungannya sekalian tukar link yuk. sukses slalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s