Bonek Lagi, Lagi-Lagi Bonek

Trenyuh hati saya melihat berita tentang kebrutalan yang dilakukan oleh oknum bonek, suporter fanatik Persebaya. Benarkah demikian?? Di Lamongan, Jawa Timur, Bonek dikeroyok massa, di Nganjuk, Jawa Timur, salah satu personil Bonek meninggal akibat terjatuh dari gerbong kereta. Sementara di Solo terjadi perang batu antara warga sekitar rel kereta dengan bonek yang sedang berangkat ber-tret tet tet ke Bandung, kandang Bobotoh, menjelang pertandingan antara Persib Bandung vs Persebaya Surabaya. Apalagi berita itu dibumbu-bumbui oleh berbagai media sehingga mengesankan bahwa Bonek memang terr..la..lu (baca dengan aksen gaya Bang Haji Roma Irama).

Sejarah Bonek

Kami tak tahu, kapan kami mulai lahir. Semuanya mengalir dan berjalan melintasi waktu dengan apa adanya, sampai saat inipun kami masih aktif mengorganisir diri kami dan menjalin tali persahabatan dari masa ke masa hingga era kini. Begitu yang diungkapkan oleh salah satu personil Bonek yang bermukim di www.bonek-surabaya.blogspot.com

Bonek berasal dari kata bondo nekat (modal nekat). Istilah bonek pertama kali dimunculkan oleh Harian Pagi Jawa Pos tahun 1989, untuk menggambarkan fenomena suporter Persebaya yang berbondong-bondong ke Jakarta dalam jumlah besar. Secara tradisional, Bonek adalah suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan away supporters (pendukung sepak bola yang mengiringi tim pujaannya bertandang ke kota lain) seperti di Eropa. Dalam perkembangannya, ternyata away supporters (bukan hanya bonek tapi supporter tim lainnya juga, pen) juga diiringi aksi perkelahian dengan suporter tim lawan. Tidak ada yang tahu asal-usul, Bonek menjadi radikal dan anarkis. Jika mengacu tahun 1988, saat 25 ribu Bonek berangkat dari Surabaya ke Jakarta untuk menonton final Persebaya – Persija, tidak ada kerusuhan apapun. (sumber: Wikipedia Indonesia)

Dalam situs lain (www.bonek-rungkut.co.cc), dikatakan bahwa istilah Bonek muncul secara tiba-tiba dan besar juga karena media massa yang awalnya bagus yang lambat laun justru mengalami pergeseran pengertian dan akhirnya lebih berkonotasi negatif. Masih ingat bagaimana dulu Jawa Pos dengan koordinator langsung Cak Dahlan Iskan pernah memberangkatkan ratusan bus, puluhan gerbong KA dan pesawat terbang menuju Jakarta. Tret..tret.. tetttt… begitulah tema yang diusung Jawa Pos tahun 1988-an.

Dan sebutan populer untuk suporter persebaya waktu itu adalah ‘Green Force’. Antusias bukan hanya dari surabaya saja, tetapi juga datang dari kota-kota besar di Jawa Timur. Bahkan dalam suatu kolom di Jawa Pos selama 7 hari berturut-turut ada komentar & kesan-kesan dari para peserta tret tret tett yang tertulis dengan foto para peserta lengkap dengan alamatnya. Begitu antusiasnya Jawa Pos sampai dalam head line news tertulis “Hijaukan Senayan” dan sambutan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pun luar biasa.

Dalam ceritanya ada yang sampai menggadaikan motornya, menjual TV, Tape, perhiasan istrinya dan peralatan rumah tangga lainnya, yang muda-muda banyak yang harus mengamen dulu pokoknya harus bisa ke senayan !!. Modal Tekad itulah yang menjadikan semangat mereka untuk meng-hijaukan senayan begitu menggebu. Sementara yang punya duit pas-pasan masih ada cara lain yaitu ‘menggandol’ truk secara estafet mulai dari Surabaya – Jakarta sambil mengamen di jalanan. Bahkan ada juga yang berangkat jauh-jauh hari sebelum pertandingan final (padahal Persebaya belum tentu masuk final) dengan menumpang gerbong kereta Pertamina yang jalannya kayak keong itu… pokoknya sampai Jakarta.

Semangat yang positif dan antusiasme tanpa ada ANARKISME dan KERUSUHAN dengan melibatkan massa banyak itulah yang mendapatkan acungan jempol banyak kalangan di Indonesia saat itu. Sebagai catatan senayan ketika itu dijejali 110 Ribu penonton dari Surabaya dan Bandung !! Suporter Persebaya sendiri sekitar 40% nya (masih kalah banyak dengan bandung yang memang jaraknya lebih dekat). Suatu rekor jumlah penonton yang barangkali sampai saat ini belum terpecahkan.

Belum lagi semangat heroik dari beberapa suporter Persebaya yang memanjat dan merayap sampai ATAP bangunan senayan yang berbentuk lingkaran itu hanya untuk membentangkan spanduk super raksasa warna hijau tulisan putih yang bertuliskan “Merah Darahku Putih Tulangku Bersatu Dalam Semangatku”. Nah Semangat yang disertai dengan berbagai cara HALAL untuk datang mendukung Persebaya ke senayan itulah yang membuat beberapa media massa, terutama Jawa Pos sebagai pelopornya, mulai mengistilahkan BONEK (Bondo Nekad)., dalam tulisannya, mereka mengatakan bahwa untuk maju, manusia harus memiliki modal tekad yang kuat.

Modal tekad atau Bondo Nekad atau Bonek sejatinya tidak seperti apa yang sering  ditunjukkan oleh media massa yang kadang malah terkesan mengompori dan bahkan seakan-akan ikut membenarkan tindakan brutal dan anarkis. Bahkan kerusuhan bonek sudah menjadi semacam rejeki buat mereka, karena berita tentang Bonek tentunya akan meningkatkan oplah surat kabar mereka.

Salah kaprah lainnya adalah istilah Modal Tekad dan Modal Nekad sebetulnya serupa tapi tak sama. Tekad lebih ke semangat untuk melakukan tindakan sedangkan nekad lebih ke tindakan yang dilakukannya. Seharusnya bukan Bondo Nekad tetapi Bondo Tekad… tetapi untuk kemudahan pengucapan lebih cenderung Bondo Nekad alias Bonek.

Upaya Memanusiakan Manusia (Pengakuan Masyarakat Akan keberadaan Bonek)

Bonek, sebagaimana komunitas manusia lainnya, selalu ingin tumbuh dan terus tumbuh, berkembang dan terus berkembang untuk selalu menjadi yang terbaik. Menjadi komunitas manusia yang sempurna, tumbuh dewasa serta mendewasakan masyarakat sekitarnya. Tumbuh cerdas serta mencerdaskan masyarakat lainnya, bahagia serta dapat memberi  kebahagiaan bagi orang lain.

Sebagaimana dalam setiap proses kehidupan, tak jarang kamipun (bonek) tumbuh diantara rasa benci dan cinta, hujatan dan pujian serta persahabatan dan permusuhan (meski sebenarnya kami tidak menginginkan permusuhan itu). Namun semua itu tak membuat kami patah arang, tak membuat kami harus pergi menjauhi dunia kami karena kami sangat yakin bahwa ini adalah dunia kami, ini adalah jiwa kami.

Sahabat, sebagaimana kehidupan seorang anak manusia, ia tumbuh bukan saja berdasar pada apa yang diajarkan oleh orang tuanya melainkan ia juga akan berkembang dengan dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tinggal, bagaimana lingkungan itu memperlakukannya. Perlakukanlah anak itu dengan baik maka ia akan tumbuh menjadi baik pula dan jangan sekali-kali memperlakukan anak itu secara jahat jika tidak ingin ia tumbuh menjadi penjahat.

Begitupun  bonek, kalau semua orang memperlakukannya secara kasar, penuh cemoohan dan hujatan terus kapan bonek akan bisa tumbuh normal menjadi komunitas manusia yang bermoral. Tindakan masyarakat yang terus mencibir keberadaan bonek itu, justru seolah-olah menjadi sebuah pengharapan bagi mereka (masyarakat yang membenci bonek) agar bonek melakukan tindakan brutal dan anarkis. Sehingga tak jarang diantara mereka melakukan provokasi sehingga tindakan anarkis itu benar-benar terjadi.

Sahabat, percayalah bahwa bonek akan tumbuh menjadi kelompok suporter yang dewasa, cinta damai, berwawasan, kreatif dan atraktif tanpa anarkis. Dan kami berusaha terus dan terus untuk melakukan upaya-upaya demi terwujudnya cita-cita tersebut. Tetapi segala kerja keras kami untuk mewujudkan semua itu akan sia-sia belaka tanpa adanya dukungan dari masyarakat luas. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik oleh semua pihak, bonek itu sendiri, masyarakat, serta media.

Agar semua permasalahan yang sering muncul itu tidak terulang lagi dan lagi maka kami harap agar masyarakat luas bisa memberikan kepercayaan kepada para bonek (yang selama ini selalu jadi kambing hitam atas kekacuan-kekacuan yang terjadi). Iso uwongno uwong, bisa mengorangkan orang. Karena kepercayaan seperti itu akan memberikan ruang tersendiri bagi bonek atau siapapun untuk tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri, tumbuh untuk menemukan jati dirinya sebagaimana harapan dan cita-cita luhur itu, yakni menjadi kelompok suporter yang dewasa, cinta damai, berwawasan, kreatif dan atraktif tanpa anarkis.

Karena perlakuan-perlakuan seperti itu merupakan sebuah penghargaan yang sangat besar dan tak ternilai serta secara alamiah akan memunculkan karakter asli (fitrah) manusia, yakni mahluk berbudi, beradab dan berbudaya. Karena bagaimanapun bonek adalah juga manusia. Salam damai…

Tedjamaja, belajar memanusiakan manusia

Surabaya, 23 Januari 2010

2 thoughts on “Bonek Lagi, Lagi-Lagi Bonek

  1. holiganisme itu biasa, mo bonek, viking, jakmania ato lainnya, cuman memang, media lah yang memicu anarkisme, dengan membesar2 mereka dimedia, seolah2 jadi ajang promosi gratis bagi mereka, jadi mereka makin berulah, coba beritakan biasa saja tidak berlebihan mungkin mereka juga akan dianggap biasa saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s