Mempertanyakan Kebenaran

Pada suatu ketika (entah kapan), peristiwa besar terjadi di lokalisasi Dolly Surabaya. Dipelopori oleh Ning Tiwi (bukan nama sebenarnya), salah satu germo kondang di kawasan itu, para penghuni lokalisasi melakukan acara taubat masal. Entah bagaimana awalnya, mereka seolah mendapatkan ilham dari Tuhan sehingga mereka semua sadar bahwa apa yang mereka perbuat selama ini salah. Poster dipasang dimana-mana,”Lokalisasi Tutup Untuk Selama-lamanya”, begitu bunyi poster tersebut.

Dengan sebuah tekad yang bulat dengan disertai niat yang tulus mereka berusaha untuk kembali menemukan fitrah mereka sebagai hamba Tuhan, taat dan tunduk pada segala perintah serta larangan-Nya. Bukan hanya itu mereka pun ingin segera bisa berbaur dan berkumpul dengan masyarakat luas. Untuk itu, atas saran seorang tokoh masyarakat setempat, akhirnya  penghuni lokalisasi dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian adalah kelompok muslim, bagian kedua adalah kelompok nasrani sedangkan kelompok ketiga adalah kelompok hindu, karena penghuni di lokalisasi itu memang terdiri dari tiga keyakinan ini.

Singkat cerita, kelompok pertama berbondong-bondong menuju masjid terdekat dari area itu untuk bertemu dengan imam masjid dengan tujuan mereka mau belajar agama dan memohon agar sang imam masjid sudi memberi bimbingan agama kepada mereka. Namun masyarakat luas menolak keras kehadiran mereka, “pelacur tidak pantas berada di sini”, kata mereka. “Najis…”, teriak sebagian warga. Merekapun berusaha memberi penjelasan perihal pertobatan mereka pada warga namun masih gagal juga.

Rombongan pun berpindah ke masjid yang lainnya namun mereka mendapat perlakuan yang sama. Tak putus asa mereka terus mencari dan mencari namun tetap saja kehadiran mereka ditolak oleh warga. Begitupun dengan rombongan kedua dan ketiga, mereka juga tidak mendapat tempat untuk memperbaiki diri. Masyarakat seolah menutup semua pintu kebajikan mereka karena dimata mereka pelacur tetaplah pelacur, perusak tetaplah perusak, pendosa tetaplah pendosa, sampai kapanpun.

Kira-kira seperti itulah keberadaan bonek di mata masyarakat. Bonek dinilai seperti pendosa yang tak pernah diampuni sampai kapanpun dan tak layak hidup di manapun meski segala upaya telah dilakukan untuk berubah menjadi lebih baik, namun hal itu tak digubris sama sekali. Seolah-olah mereka (masyarakat) memang menginginkan bonek untuk tetap hidup sebagai pendosa, hidup sebagai perusak. Sama sekali mereka tak menginginkan bonek untuk menjadi lebih baik sedikitpun karena bila bonek berubah menjadi lebih baik maka mereka akan kehilangan sasaran caci maki dan hujatan mereka. Tak akan ada lagi sarana untuk memuaskan nafsu amarah mereka. Karenanya dalam setiap kesempatan mereka selalu berusaha, entah dengan cara apapun untuk menjadikan bonek tetap buruk di mata masyarakat luas. Astaghfirulloh…

Bukankah seharusnya kita sebagai manusia yang lebih bermoral dibanding bonek yang selalu bikin rusuh itu (menurut mereka lho) mestinya kita lebih mengerti dong dibanding bonek.  Seharusnya kita malah memberi dukungan kepada bonek atas niat baik bonek untuk memperbaiki diri dari kisah kelam masa lalunya itu. Karena tindakan mengucilkan bonek malah akan menghambat proses perubahan itu sendiri. Bagaimanapun ini harus menjadi tanggungjawab semua pihak baik bagi masyarakat luas maupun bagi keluarga besar bonek itu sendiri.

Memang harus diakui bahwa bonek masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri mereka tapi dengan segala kemampuan yang mereka miliki, kita seharusnya percaya dan yakin bahwa upaya mereka yang terus menerus untuk melakukan perubahan-perubahan guna terwujudnya bonek paradigma baru, yakni kelompok suporter yang dewasa, cerdas, cinta damai, berwawasan, kreatif dan atraktif tanpa anarkis serta lebih berwibawa, itu akan membawa hasil yang baik. Saya yakin (penulis) dengan kepercayaan serta pengakuan dari masyarakat luas akan memberi rasa percaya diri yang besar bagi mereka serta dampak yang sangat baik bagi kemajuan mereka serta bangsa ini.

Salam damai suporter Indonesia

Tedjamaja, berusaha untuk selalu menjadi lebih baik

Surabaya, 25 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s