Mengorganisasikan Suporter Indonesia

Melihat perkembangan sepak bola negeri tercinta kita ini membuat saya menjadi prihatin. Bagaimana tidak prihatin, lha wong prestasinya masih sangat jauh dari harapan, belum lagi problematika pendukungnya (suporter) yang kerap bikin ulah, onar meskipun terkadang bukan para suporter ini yang berulah tapi kehadiran mereka dalam jumlah besar kerap membuat masyarakat dilanda pobia sehingga sebagian masyarakat sengaja “berulah” terlebih dahulu untuk menunjukkan wibawa mereka dengan harapan para suporter ini tidak berulah di daerahnya.

Dari berbagai kejadian yang pernah terjadi sehubungan dengan supporter ini, nampak adanya beragam permasalahan yang melatar belakangi kejadian demi kejadian tersebut. (Mungkin) persoalan yang sangat mendasar adalah sikap (attitude) para supporter yang masih belum dewasa di negeri ini, hal ini biasanya ditunjukkan saat tim kesayangan mereka kalah atau sedang bermain jelek. Mereka melampiaskannya dengan penuh emosi dan kemarahan sehingga perbuatan mereka sering diluar kontrol dan ujung-ujungnya kerusuhan pun terjadi (tawuran dengan supporter tim lawan atau perusakan sarana-sarana umum). Dukungan fanatik yang membabi buta kepada tim kesayangannya merupakan salah satu contoh real belum dewasanya supporter kita.

Efek dari permasalahan diatas menimbulkan rasa ketidakpercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kelompok supporter. Dan hal ini menjadikan trauma yang berkepanjangan dari sebagian masyarakat yang mungkin pernah jadi “korban” dari aksi kelompok supporter, sehingga menimbulkan sikap reaktif yang berlebihan seperti yang terjadi dalam kasus pelemparan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap bonek, kelompok supporter dari Surabaya di Solo beberapa hari yang lalu.

Untuk itu diperlukan solusi cerdas guna terciptanya kondisi yang nyaman dan aman dalam kompetisi sepak bola di negeri ini. Kejadian-kejadian buruk yang pernah terjadi itu jangan sampai terulang lagi karena hal itu akan semakin memperburuk citra bangsa ini di mata dunia, terlebih lagi trauma yang dialami masyarakat jangan sampai menjadi terendap dan berkerak karena itu akan menjadi sangat berbahaya, bisa-bisa malah menjadikan permusuhan yang berkepanjangan antara daerah.

Sudah saatnya supporter diberi wadah tersendiri untuk mengekspresikan dukungan mereka kepada tim kesayangannya dengan cara-cara yang santun, dewasa dan bermartabat. Apa tidak sebaiknya kalau PSSI, sebagai organisasi sepak bola nasional, membuatkan lembaga tersendiri di bawah naungannya sehingga memudahkan PSSI untuk melakukan pembinaan dan pengembangan demi kemajuan persepakbolaan Indonesia. Karena bagaimanapun, supporter adalah bagian dari tim itu sendiri, keduanya tidak bisa dipisahkan begitu saja, ada hubungan yang saling menguntungkan diantara keduanya. Bukankah kompetisi yang baik akan menghasilkan pemain-pemain yang berkualitas??… Dengan pemain-pemain yang berkualitas disertai dengan kompetisi ketat akan menjadikan Indonesia memiliki TIMNAS yang kuat pula. Bukankah ini yang menjadi harapan kita selama ini??…

Bukan itu saja dengan dibentuknya lembaga supporter ini, berarti PSSI maupun klub telah mengakui eksistensi para supporter, dan ini merupakan penghargaan besar dan sangat terhormat bagi kelompok supporter. Sehingga secara psikologis itu akan memberi dampak positif bagi kedewasaan supporter.

Masih banyak keuntungan lain yang bisa didapatkan dari organisasi supporter tersebut. Antara lain, klub maupun PSSI akan dengan mudah dalam mengontrol maupun dalam melakukan pembinaan. Juga, dengan adanya koordinasi yang baik dalam tubuh supporter akan sangat mungkin bagi klub untuk menentukan seberapa besar pemasukan keuangan yang bisa didapatkan dari penjualan tiket. Karena akan jauh lebih mudah untuk menjual tiket baik secara terusan atau regular tanpa takut adanya mafia tiket (munculnya tiket palsu). Pendistribusian tiket bisa dilakukan hanya dengan melakukan koordinasi melalui masing-masing korwil (Koordinasi Wilayah) dan para supporter tidak perlu harus berjubel untuk mendapatkan tiket masuk, otomatis hal ini sangat membantu ketertiban dan keamanan pra pertandingan serta guna memberantas calo tiket.

Bukan itu saja, dengan adanya organisasi yang terstruktur mulai dari level nasional hingga wilayah maka kerusuhan dan permusuhan antar kelompok supporter yang kerap terjadi selama ini bisa dihindarkan karena mereka melalui ketua kelompoknya masing-masing kerap bertemu dalam acara-acara yang dilakukan organisasi, misalnya dalam munas, raker dan lain sebagainya. Sehingga kehangatan dan rasa kebersamaan yang didapat dalam setiap kegiatan bisa ditularkan ke bawahan masing-masing.

Semoga sedikit sumbang saran dari saya ini memberi manfaat bagi kerukunan bangsa ini, kedewasaan bangsa ini serta demi kemajuan sepak bola nasional kita. Bravo Indonesia!!!

Tedjamaja, urun rembug

Surabaya, 31 Januari 2009

2 thoughts on “Mengorganisasikan Suporter Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s