Belajar Memaknai Kehidupan

Tidak ada istilah untuk berhenti belajar, mogok belajar, cuti belajar atau istilah lainnya. Karena mau tidak mau belajar adalah sebuah kewajiban manusia. Tanpa kita sadari meski kita bukan orang sekolahan (kuliahan) sebenarnya kita telah belajar, setiap menit, setiap waktu. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Lho,…

Ya, sudah menjadi kodrat kita sebagai manusia untuk selalu belajar dan belajar hingga ajal kita menjemput, plus saat kita nanti dibimbing sebelum jasad kita dimakamkan (kalau ada yang memakamkan sih). Memang seperti itu adanya, sudah menjadi fitrah manusia, untuk selalu menemukan kebenaran demi kebenaran, persis seperti air yang selalu mengalir mencari muara. Sama dengan pergerakan akar tumbuhan untuk menemukan makanannya. Itulah fitrah, naluri. Meski setiap manusia akan melewati jalannya masing-masing, tidak harus sama dengan manusia lainnya.

Coba bayangkan, saat manusia masih berupa janin dalam kandungan dia sudah harus mulai belajar, belajar untuk bisa menerima segala asupan nutrisi dari plasenta sang ibu. Ketika baru dilahirkan dia harus belajar lagi untuk bisa menerima keadaan yang sangat berbeda dengan keadaan saat ia masih dalam kandungan. Begitu seterusnya hingga nanti ia tumbuh dewasa dan meninggal, kembali kepada Sang Pencipta.

Proses tumbuh dan kembang seperti itu akan dialami oleh semua manusia tanpa terkecuali, namun pencapaian derajat keilmuannya yang akan membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Derajat keilmuan itu adalah sikap manusia dalam memahami kehidupan ini. Mungkin, diantaranya adalah pemahaman dari mana manusia berasal, lantas dilanjutkan dengan pemahaman untuk apa manusia diciptakan dan kemana manusia akan kembali.

Sebagaimana air yang mengalir melawati sungai dan lembah seperti itulah perjalanan hidup manusia. Air berasal dari hujan, tersimpan dalam pori-pori tanah melalui proses alam (akar-akar pohon), lantas menjadi mata air yang siap mengalir melewati sungai dan lembah, mampir sebentar memberikan pengabdian sucinya bagi kelangsungan hidup semesta sebelum ia sampai muara dan lebur menjadi satu (moksa) bersama lautan luas. Disitulah air menemukan kehidupan sejatinya, kebahagiaan tertingginya, tujuan hidupnya.

Manusiapun melakukan proses yang sama seperti itu. Manusia bermula dari Dzat yang Maha Tinggi, lantas singgah sebentar dalam kandungan sang ibu. Lahir ke dunia sebagai manusia sejati untuk mengabdikan dirinya bagi kebaikan semesta (benarkah seperti itu??), berperan dalam kehidupan bermasyarakat sambil terus belajar dan belajar, menguji kesejatiannya melalui sikap, olah pikir dan olah dzikir sebagai proses untuk menggapai kesempurnaannya, sebagai bekal untuk meleburkan dirinya pada alam tanpa batas (moksa), menemukan fitrahnya dalam kebenaran yang sejati, kebenaran Illahi. Kembali kepada Dzat Yang Maha Tinggi.

Wallohu’alam bishowab…

Tedjamaja, belajar lagi dan lagi
Surabaya, 4 Februari 2010

2 thoughts on “Belajar Memaknai Kehidupan

    • siipp… dan menjadikan pembelajaran terhadap setiap kejadian yang kita alami, suka atau duka, baik atau buruk adalah pilihan bijak untuk proses kedewasaan kita dalam menemukan kebenaran yang hakiki. thanks, komentarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s