Ummat Islam Menghancurkan Islam, Mungkinkah??

Akhir-akhir ini banyak saya temui status, link atau tautan dalam FB yang isinya menyatakan bahwa ada sekelompok ummat Islam yang ingin menghancurkan Islam (astaghfirulloh, apa bener ya?), Cirinya adalah mereka tidak menghendaki adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tidak setuju dengan demokrasi dan ingin mendirikan negara sendiri daulah islamiyah. Dan tentunya tautan itu direspon oleh banyak orang dengan beragam komentar baik komentar negatif yang menyudutkan salah satu pihak (kelompok tertuduh) maupun komentar yang berupa pembelaan atau pembenaran.

Tentu saja hal ini seolah menggaris bawahi (lagi) bahwa ada permusuhan diantara ummat Islam sendiri. Perselisihan antara ummat yang pro Qunut dan yang menolak Qunut sudah nyaris tak pernah terdengar lagi, begitu juga dengan selisih pendapat tentang bagaimana hukum mendoakan orang yang mati (7 hari, 40 hari, 100 hari dsb) sudah lama tenggelam. Sehingga nampak (seolah-olah) ummat Islam sudah bersatu (lagi) kokoh dalam membangun ukhuwah Islamiyah. Namun, kejadian ini memperjelas kembali bahwa ada lubang diantara ummat Islam itu sendiri.

Saya, jadi bertanya, apa sih sebenarnya yang diharapkan oleh ummat Islam itu? Atau pertanyaannya saya rubah menjadi, Apa sih sebenarnya yang diharapkan oleh Islam itu? Seingat saya waktu masih belajar di sekolah menengah dulu, guru saya sering mengatakan bahwa Islam adalah agama damai, bahkan Islam tidak pernah memaksa kepada ummat manusia untuk memeluknya. Dan dari cerita guru saya juga, bahwa para sahabat dulu memeluk Islam adalah atas panggilan jiwa tanpa ada paksaan sedikitpun apalagi kekerasan. Jiwa para sahabat itu sendiri yang terpanggil untuk menerima kebenaran hakiki yang semua itu atas berkat rahmat Alloh swt. Karena semua kebenaran adalah datangnya dari Alloh semata. Para sahabat kagum dan terpesona melihat perilaku dan akhlak Rosululloh.

Saat itu saya langsung membayangkan bahwa Islam benar-benar mulia, pembawa kedamaian, jalan hidup yang sejati. Saya merasa sangat beruntung karena orang tua saya mewarisi sesuatu yang sangat berharga, yakni Islam. Agama yang sangat saya yakini hingga kini dan nanti, selamanya. Dan saya rasa semua ummat Islam pun meyakini hal yang sama atau bisa dikatakan kita memiliki gambaran yang sama tentang Islam. Kalau anggapan saya ini benar, maka sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban kita semua, ummat Islam, untuk menunjukkan penggambaran yang lebih jelas lagi mengenai Islam. Sudah semestinya kita tunjukkan “wajah” Islam yang sesungguhnya kepada dunia sehingga ummat agama lain akan berbondong-bondong memeluk agama Islam tanpa ada paksaan dari pihak manapun, apalagi yang namanya kekerasan.

Saya mengutip, kalimat yang disampaikan oleh salah seorang sahabat saya, calon seorang Doktor, ia mengatakan, bahwa dalam kehidupan ini ada dua macam manusia, yakni, macam manusia yang pertama adalah mereka yang bersandar dan macam manusia yang kedua adalah mereka yang mengangkat. Mereka yang senantiasa bersandar adalah orang yang selalu berbicara mengenai untung rugi dalam setiap aktivitasnya, mereka ada, hanya untuk mencari penghidupan.

Sementara mereka yang selalu mengangkat adalah orang yang senantiasa berorientasi pada, bagaimana caranya saya bisa membawa kemajuan bagi setiap lembaga, institusi atau apapun itu namanya, yang menaungi saya. Orang ini ada, untuk memberi warna pada dunia bukan ada, sekedar untuk mencari penghidupan di dunia ini. Saya rasa begitu juga ummat Islam yang ada. Kita dianugerahi oleh Alloh kehidupan adalah semata-mata untuk mengangkat, guna memakmurkan alam semesta, sebuah cita-cita mulia Islam.

Maka sudah seyogyanya jika kita sadar dan peduli untuk selalu bisa menampilkan “wajah” Islam yang sesungguhnya karena Islam itu nampak adalah dari ummatnya, pemeluknya. Apa yang dilakukan oleh pemeluknya itulah penggambaran dari Islam itu sendiri. Islam bukan sekedar apa yang termaktub dalam al-qur’an saja, melainkan Islam adalah ajaran Illahi yang disampaikan melalui firman yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan diaplikasikan ajarannya oleh para pemeluknya. Dan dari apa yang telah diaplikasikan dalam kehidupan ini oleh pemeluknya, itulah Islam yang dinilai oleh penduduk dunia.

Lantas bagaimana dengan kejadian diatas (daulah islamiyah). Kalau saya boleh menyarankan, maka hal itu harus disikapi secara dewasa dengan penuh kesadaran bahwa kebenaran itu mutlak ada dalam kuasa Alloh, bukan ada pada penafsiran kita. Semestinya kita sadar bahwa dalam penafsiran orang lain yang menurut kita itu salah, ada separo potensi kebenaran didalamnya. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang kita tafsirkan benar maka sesungguhnya ada separo potensi kesalahan didalamnya. Jika hal ini bisa kita praktekkan maka tidak ada lagi kesalahpahaman, apalagi perselisihan karena masing-masing pihak saling menghormati bukan saling menyalahkan, dengan begini konflik karena perbedaan pendapat bisa kita minimalisir tanpa harus muncul kepermukaan. Wallahu’alam…..

by Tedjamaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s