Mudik Kembali ke Fitrah Kita sebagai Manusia

Seolah sudah menjadi tradisi yang tak bisa ditinggalkan, mudik dalam lebaran mampu hadir sebagai aktivitas sakral rutin tahunan sebagaimana lebaran itu sendiri. Meski terkadang sedikit dipaksakan baik dari sisi ekonomi maupun lainnya. Jalanan yang macet bukanlah halangan, tiket yang mahal bukan pula sebuah rintangan. Tak jarang karena saking semrawutnya kondisi jalanan kita, momen mudik yang seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan berubah menjadi malapetaka, karena kecelakaan. Tetapi hal itu tak menjadi persoalan. Subhanalloh…

Mudik bukan hanya persoalan sambang kampung atau sekedar berkumpul bersama keluarga apalagi hanya sekedar untuk bisa menjalankan sholat ied bersama. Karena semua hal tersebut bisa dilakukan kapan saja. Sambang kampung kan tidak harus pas lebaran, begitu juga kumpul dengan keluarga besar. Kita yang hidup diperantauan pun bisa melaksanakan sholat ied berjamaah di tempat dimana kita tinggal, bukankah ummat Islam menempati rating tertinggi dalam negeri ini. Jadi persoalannya tidak sekedar itu saja.

Kalau saya boleh memberi sedikit kesimpulan, sebenarnya mudik ini merupakan simbol dari fitrah manusia. Kampung merupakan simbol asal keberadaan kita hidup di dunia ini. Kesuksesan yang kita perjuangkan sebenarnya berawal dari sini, kampung kecil ini. Begitu kira-kira. Sehingga muncul dorongan kuat dari dalam hati upaya untuk refleksi diri agar kita tidak menjadi pongah atas kesuksesan kita.

Lantas kenapa mesti dilakukan pas lebaran? Karena sebelum lebaran kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa dan puasa sendiri merupakan sistem yang diciptakan oleh Tuhan sebagai upaya pembentukan karakter manusia yang mumpuni baik lahir maupun bathin. Ada pembelajaran di dalamnya ada perjuangan juga sehingga hanya mereka yang berjuanglah yang layak memperoleh kemenangan. Kira-kira begitulah sebagian pelajaran yang diberikan Tuhan kepada kita, hamba-Nya melalui kewajiban berpuasa ini. Hal ini memberi penggambaran kepada kita, bahwa manusia dituntut untuk selalu berjuang dan berjuang. Berusaha tanpa kenal putus asa dan setelah perjuangan itu maka manusia layak mendapatkan kemenangannya, kesuksesannya. Dan atas kesuksesan itu manusia diharapkan untuk mengingat bahwa itu semua adalah hadiah dari Tuhan sebagai karunia-Nya. Mengembalikan segalanya kepada Illahi itulah hakekat mudik yang sebenarnya.

Jadi melalui momen lebaran inilah sebenarnya kita diingatkan oleh Tuhan agar kembali menjadi manusia yang sejati, manusia sebagai hamba Alloh yang bisa hidup hanya karena karunia-Nya, oleh karena itu tak ada yang patut kita sombongkan karena kita sesungguhnya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kita hanyalah “boneka” Alloh yang diberi hati, jadi berfikir dan bertindaklah dengan hati dan semata karena Alloh bukan karena memperturutkan nafsu syahwat. Sebagai khalifah Tuhan untuk memberi kemakmuran bagi alam semesta. Oleh karena itu tindak-tanduk kita, baik ucapan maupun perbuatan kita harus selalu mengarah dan mengacu pada tujuan mulia, yakni kemakmuran alam semesta. Berbagi dan memberi adalah suatu keharusan untuk menciptakan keseimbangan hidup di dunia ini. kalau hal ini bisa kita kerjakan secara konsisten maka akan muncul sebuah pameo baru, “ si miskin kini berbahagia berdampingan mesra dengan si kaya”. Insyaalloh…

One thought on “Mudik Kembali ke Fitrah Kita sebagai Manusia

  1. semoga si miskin dan si kaya benar2 bisa hidup berdampingan dengan mesra. amin
    met tahun baru hijriah, semoga tahun ini jauh lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s