Antara Manusia, Malaikat dan Iblis

Menurut buku yang pernah saya baca, ternyata untuk menjadi malaikat atau iblis itu sangat gampang lho. Malaikat “hanya” dititahkan oleh Tuhan untuk selalu berbuat baik sedangkan iblis “hanya” dititahkan Tuhan untuk senantiasa berbuat jahat, onar dan biang dari keangkaramurkaan. Sangat simple, karena baik malaikat maupun iblis tidak punya pilihan lain, mau atau tidak mau, terpaksa ataupun tidak, mereka (malaikat dan Iblis) hanya punya satu pilihan saja dan Tuhan-pun hanya menganugerahi mereka satu naluri saja, yakni naluri untuk berbuat baik bagi malaikat dan naluri untuk berbuat jahat bagi iblis.

Beda sekali dengan manusia. Manusia dikaruniai oleh Tuhan dengan dua naluri sekaligus, yakni naluri baik, sifat turunan dari Malaikat dan naluri jahat, sifat turunan dari Iblis. Bisa dikatakan bahwa manusia adalah hasil olahan (baca: perkawinan silang) malaikat dan iblis. Mereka (malaikat dan iblis) memiliki andil dan peran yang sama dalam “mewariskan” sifatnya kepada manusia. Seperti halnya proses kelahiran bayi, DNA ayah dan ibu (dengan porsi yang sama, ayah 23 dan ibu 23) melebur menjadi satu membentuk bayi yang sempurna dengan DNA yang berjumlah 46. Begitu juga peran yang dimiliki oleh malaikat dan iblis dalam membentuk (jiwa) manusia.

Jadi, sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk selalu mawas diri, andhap asor, dan tidak adigung adiguna kepada sesama. Kalau ada kawan, sahabat, saudara atau orang lain yang berbuat jahat, ya jangan diambil hati apalagi sampai dicaci maki, mesti kita ingat bahwa itu adalah naluri iblis yang lagi dominan pada dirinya, maka sudah semestinya untuk kita doakan semoga naluri malaikat yang ia miliki segera mendominasi dan mengambil alih dominasi naluri iblis. Begitu juga jika kita sedang berbuat baik, jangan lantas sombong karena kebaikan kita, toh bisa jadi naluri malaikat yang sedang mendominasi akan diambil alih oleh naluri jahat turunan sifat dari iblis. Jika kita sedang berbuat baik, maka anggap saja bahwa iblis sedang berbaik hati dan jika orang lain berbuat jahat maka anggap saja bahwa ada malaikat yang tengah berbuat jahat. Dengan bersikap seperti itu diharapkan tidak ada lagi permusuhan, justru upaya untuk instropeksi diri yang kita tonjolkan. Jadi, setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi baik, meski bagaimanapun jahatnya ia, dan setiap manusia yang paling baik sekalipun memiliki potensi yang sama untuk berbuat jahat. Wallahu ‘alam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s