Kesadaran Beragama

Saya akui, bahwa saya beragama Islam bisa dikatakan hampir seratus persen dikarenakan bapak dan ibu saya beragama Islam. Begitu juga dengan bapak-ibu saya juga dikarenakan kakek-nenek saya beragama Islam dan saya kira begitulah seterusnya. Jadi bisa dikatakan bahwa saya beragama Islam adalah karena “warisan” bapak-ibu, kakek-nenek dan seterusnya.

Tidak seperti para sahabat (as-sabiqun al-awwalun) atau orang lain yang “menemukan” Islam melalui sebuah proses pencarian panjang, berdasarkan pengalaman spiritual yang dialami dan dirasakan terlebih dahulu. Abu Bakar As-Shiddiq, misalnya, sejak muda beliau sudah kenal betul dengan keagungan Nabi Muhammad SAW sehingga pula Beliau begitu percaya akan ke-Rasul-an Muhammad. Dan pengalaman itulah yang membawa Abu Bakar memeluk Islam.

Demikian halnya dengan Ali bin Abi Thalib, sebagai orang kedua yang menerima dakwah Rasulullah SAW setelah Khadijah, istri Nabi SAW. Ia diasuh oleh Nabi Muhammad SAW sejak usia enam tahun dan banyak menyaksikan Nabi SAW menerima wahyu.

Proses demikian inilah yang biasanya membawa seseorang menuju pengalaman batin yang  mendalam sehingga menjadikan orang yang demikian benar-benar bisa menghayati Islam bukan karena orang lain tetapi lebih karena pengalaman antara dirinya dengan Tuhannya dan Islam itu sendiri.

Selain terkenal dengan patung merlion-nya, Singapore juga dikenal karena kotanya bersih, rapi, aman, dan indah. Warganya mematuhi aturan yang berlaku, nyaris tak terdengar pencurian atau perampokan. Sangat mengesankan layaknya model kehidupan yang Islami.

Coba bandingkan dengan negara Indonesia yang semrawut dan masyarakatnya “over creative”. Sungai yang seyogyanya harus dijaga kebersihannya malah difungsikan sebagai “tempat sampah”. Trotoar yang semestinya sebagai tempat pejalan kaki beralih fungsi sebagai lahan parkir, warteg, dan lain-lain, yang tentu saja membuat ketidaknyamanan para pengguna trotoar. Semestinya Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam bisa menerapkan prinsip-prinsip kehidupan yang lebih Islami dibandingkan dengan Singapore.

Islam di Indonesia diperoleh dengan “mudah” tanpa melalui sebuah proses pencarian panjang, sehingga ummat Islam di sini bisa dikatakan sangat miskin akan pengalaman-pengalaman spritual yang dapat menggugah kesadaran keilahian dalam beragama. Dengan kata lain, kita beragama tanpa menggunakan  kesadaran melainkan beragama hanya karena orang lain (bapak-ibu, kakek-nenek, dan/ atau lingkungan) beragama. Ironis memang tetapi inilah kenyataannya.

Dengan memahami kekurangan yang ada ini, diharapkan masyarakat lebih gigih lagi dalam mengupayakan munculnya kesadaran beragama dalam diri kita melalui pengayaan pengalaman ketuhanan yang bisa diambil melalui kisah-kisah sukses dan gagal dari kehidupan sehari-hari, baik kisah diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Dengan demikian Islam sebagai sebuah sikap penyerahan total kepada Tuhan tidak lagi hanya sekedar berupa ritual saja melainkan sudah menjadi  sebuah budaya tersendiri yang mengantar kita kepada sebuah kehidupan yang aman, tentram dan sentosa sesuai dengan cita-cita Islam itu sendiri, yakni rahmatan lil ‘alamin.

Tedjamaja

Sidoarjo, Sabtu, 22 Oktober 2011. 20.55 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s