Pesan Penting

Tak pernah kapok rasanya diri ini, meski berulang kali harus terpelanting kesana kemari, terombang-ambing tak menentu, bagai buih di tengah samudera hindia. Rasanya, baru kemarin air mata ini mengering setelah habis terkuras oleh kisah cinta segitiga antara Fahri, Aisha, & Maria, di tengah gurun pasir tandus di negeri nun jauh sana, Mesir. (Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy).

Belum juga reda ketegangan jiwa ini oleh kisah si Robert Langdon, dalam pencariannya menguak kebenaran yang tersembunyi sejak sekian ratus tahun yang lalu. Rahasia yang tersimpan rapi dan nyaris tak terungkap dalam berbagai karya pelukis besar, Leonardo Da Vinci. (The Davinci Code, Dan Brown).

Belum lagi merananya jiwa ini menyaksikan seorang putri nan cantik jelita, Dewi Shinta, harus mengalami masa pengasingan jauh ditengah hutan, jauh dari peradaban sebagai korban atas nafsu angkara yang bernama keserakahan. (Ramayana). Juga atas kisah Pandawa-Kurawa dalam cerita kolosal Mahabarata. Belum lagi kisah-kisah lainnya yang terkadang sangat menjengkelkan bahkan teramat sangat, meskipun terkadang hadir juga sebersit keindahan dan kebahagiaan di dalamnya.

Kini, hati ini kembali tercabik-cabik, tersayat-sayat oleh kisah seorang laki-laki pribumi, yang bernama Minke. Seorang pemuda luar biasa, murid HBS (nama sekolah pada zaman Kolonial Belanda, yang konon hanya orang Eropa dan sedikit dari orang pribumi, terbatas pada anak bupati dan priyayi, yang boleh belajar di sini.) yang harus berguling bahkan terkadang harus terkapar bahkan menggelepar, berjuang atas nama kemanusiaan. Tak harus menang, memang. Karena kemenangan bukan tujuan, melainkan, kemenangan hanyalah akibat yang ditimbulkan atas tindakan yang telah dilakukan.

Itulah yang terjadi pada seorang pemuda yang bernama Minke. Pejuang kemanusiaan itu harus dicerabut dasar kemanusiaannya sampai keakar-akarnya. Tak dianggap lagi diri sebagai seorang manusia. Tragis. Teramat tragis. (Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer).

Boleh jadi itu hanyalah kisah kosong belaka. Hanya sebuah cerita, yang tak pernah terjadi dalam kehidupan ini. Sekedar khayalan seorang penulis belaka. Namun, saya sangat percaya bahwa penulis sekaliber Habiburrahman, Andrea Hirata, Pramoedya, Dan Brown atau siapapun itu penulisnya, tentu memiliki maksud-maksud tertentu. Memiliki harapan dan impian, setidaknya memiliki “pesan penting” yang ingin disampaikan kepada pembacanya (masyarakat luas). Terlepas, pesan itu dapat ditemukan ataupun tidak. Tersampaikan kepada masyarakat ataupun tidak. Bagi mereka, menulis adalah tugas kemanusiaan, oleh karena itu tetap harus dilakukan tak peduli berhasil ataupun tidak.

Begitu juga dengan kita. Boleh jadi visi dan misi Kalam’s ini hanyalah isapan jempol belaka, omong kosong. Akibat tidur terlalu nyenyak di siang hari. Tentunya ini pendapat orang lain di luar komunitas ini. Betapa buruknya pun penilaian orang lain atas kita, Kalam’s harus tetap jalan. Kalam’s harus tetap survive. Karena ini adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia, khalifah Allah di muka bumi ini. (Begitu, Kang Amien, pernah menjelaskan). Harus membawa manfaat bagi orang banyak.

Tak harus menang, memang. Dan tak harus berhasil. Biarlah itu menjadi urusan Allah semata, tak perlu kita ikut bercampur tangan. Bukankah keberhasilan hanyalah akibat dari apa yang sudah kita usahakan?! Terpenting adalah kita harus all out, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh sahabat kita, Purwanto. Bersungguh-sungguh atas setiap usaha kita, bersungguh-sungguh dalam menjalankan program-program kita, demi tercapainya visi misi itu. Visi misi itulah “pesan penting” yang hendak kita sampaikan kepada masyarakat luas. Terlepas diterima ataupun tidak, kita harus tetap berbuat. Ikhlas dalam niat, pikiran, maupun tindakan. Saatnya kita belajar berani. Saatnya kita belajar kuat. Dan tentu saja, kitapun harus berani belajar. Belajar menghadapi hari esok, belajar menghadapi kenyataan. Menang ataupun kalah.

Bagaimana kawan, sudah siapkah diri kita???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s