Masihkah Kita Turut Merayakan-Nya?? (Mencermati Sejarah & Tradisi Perayaan Tahun Baru Masehi)

SEJARAH TAHUN BARU MASEHI

Tahukah Anda, bahwa perayaan tahun baru sebelumnya diperingati pada setiap bulan Maret. Hal ini sesuai dengan penanggalan Romawi, dimana bulan awal dalam penanggalan ini adalah Bulan Maret, hal ini dimaksudkan untuk menghormati Dewa Perang Martius. Dalam penanggalan Romawi ini, satu tahun terdiri dari 10 bulan atau 304 hari. Pada masa itu Kaisar Romawi memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan sistem penanggalan. Mereka senang mengubah-ubah sistem penanggalan demi memperpanjang masa pemerintahan mereka.

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad VII SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Dan tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Penanggalan ini disebut juga dengan penanggalan Julian, sesuai dengan nama pembuatnya, yakni Julius Caesar.

Bermula ketika tahun 1582 terjadilah titik equinox, siang dan malam sama lamanya, dan baru ketahuan kalau penanggalan ala Julian tidak akurat. Ada kelebihan hari yang tidak diperhitungkan sehingga jika diakumulasikan selama 1500 tahun mengakibatkan hari-hari besar keagamaan menjadi tidak sesuai dengan musimnya. Natal pada waktu itu sudah jatuh pada bulan April ketika musim panas yang seharusnya tiba pada awal musim dingin. Paus Gregorius XIII turun tangan dan mengeluarkan maklumat pada Konsili Nicea I, untuk membenahi sistem penanggalan yang ada. Dari situlah bermulanya kalender Gregorian yang kita gunakan sampai sekarang. Dimana setiap empat tahun sekali disebut tahun kabisat dengan jumlah 366 hari.

Yang unik adalah penyebutan nama-nama bulan dalam kalender Masehi tidak sesuai dengan arti sebenarnya. Hal ini karena pada awalnya kalender Masehi berjumlah 10 bulan, pemasukan nama Julius Caesar untuk bulan ke-7 dan Augustus Caesar untuk bulan ke-8, mengacaukan penyebutan nama-nama bulan yang telah ada sebelumnya. Akibatnya, September yang berarti ketujuh, diambil dari bahasa Latin Septem, meski bergeser menjadi bulan ke-9 nama September tidak diganti. Oktober sama seperti September, tidak mengalami perubahan nama ketika terjadi pergeseran bulan Oktober berasal dari kata Octo yang berarti delapan menjadi bulan ke-10. November, dari bahasa Latin Novem artinya bulan kesembilan kini menjadi bulan ke-11. Desember, dari kata Decem, bahasa Latin artinya sepuluh tetapi menjadi bulan ke-12.

PERAYAAN TAHUN BARU

Bagi kaum Pagan Persia yang beragama Majusi (Penyembah Api), tanggal 1 Januari diperingati sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nuruz. Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka, ‘Tumarat’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘Jamsyad’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi ‘Nairuz’ pada awal tahun. ‘Nairuz’ sendiri berarti tahun baru. Kaum Majusi juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.

Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imâm an-Nawawî dalam buku Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Di dalam perayaan itu, kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya –karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai. Mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, akan disiram dengan air bercampur kotoran.

Sementara itu, orang-orang Romawi mendedikasikan perayaan tahun baru ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings.Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. Dan orang-orang Romawi bila ingin mengawali suatu pekerjaan penting selalu memohon pertolongan Dewa Janus.

Dalam keyakinan Nasrani, perayaan tahun baru merupakan satu paket dengan perayaan natal. Dalam keyakinan mereka, perayaan tahun baru dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa Al-Masih, sehingga agama Nasrani sering juga disebut Agama Masehi. Masa sebelum kelahiran Yesus mereka sebut tahun Sebelum Masehi dan masa sesudah kelahiran Yesus mereka sebut Tahun Masehi.

Melihat kenyataan sejarah yang ada sebagimana penjelasan diatas, maka timbul pertanyaannya. Masihkah kita turut merayakan pergantian tahun itu? Yang nota bene itu adalah perayaan orang-orang Pagan yang beragama Majusi (penyembah api). Perayaan orang-orang Romawi sebagai penghormatan untuk dewa mereka, Janus. Perayaan orang-orang Nasrani untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus.

Pertanyaan berikutnya adalah masihkah kita akan menunggu datangnya tahun baru masehi untuk membuat resolusi kita? Jika kini, kita telah mengetahui, bahwa orang-orang Romawi, Pagan, meminta restunya kepada Janus, dewa mereka untuk memulai pekerjaan penting mereka. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan untuk ber-muhasabah, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Surabaya, 24 Desember 2012. 12.40 (di kantor Medokan)

Tedjamaja

Sumber:

  1. http://duniabaca.com/sejarah-tahun-baru-di-dunia.

  2. http://awaspinter.blogspot.com/2011/12/inilah-sejarah-perayaan-tahun-baru.html

  3. http://faridwajdiarsya.wordpress.com/tag/sejarah-tahun-baru-masehi/

  4. http://abangdani.wordpress.com/2010/12/31/perayaan-tahun-baru-itu-syiar-kaum-kuffar-ketahuilah/

  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s