ASI, Kurikulum Illahi Untuk Pendidikan Karakter Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya memiliki akhlak yang mulia, jujur, suka menolong, perhatian, memiliki kepedulian, dan lain sebagainya. Dalam Islam-pun, akhlak memiliki posisi yang sangat penting, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Hal ini tercantum antara lain dalam sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlakj yang mulia.” (HR. Ahmad, Baihaqi, & Malik). “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmizi). “Sesungguhnya kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akherat.” (QS. Shad [38]: 46)
Akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Seseorang dikatakan berakhlak jika perbuatan yang ditimbulkan bersumber dari dalam dirinya sendiri dan dilakukan tanpa melalui pemikiran, pertimbangan dan penelitian. Perbuatan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu dan atas dasar tertentu pula, apalagi jika hanya dilakukan sesekali waktu saja, tidak bisa dikategorikan sebagai akhlak.
Dan dewasa ini, akhlak menjadi persoalan yang sangat menyita perhatian kita semua. Bagaimana tidak, berita di televisi maupun media cetak banyak memberitakan tentang korupsi, tawuran pelajar, pergaulan bebas yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa dan banyak berita-berita lainnya yang sejenis. Sungguh akhlak, benar-benar telah menjadi persoalan yang sangat mendasar. Tentunya sebagai orangtua kita tidak mengharapkan hal yang seperti ini menjangkiti keluarga kita. Naudzubillah min dzalik. Untuk itu diperlukan sebuah upaya nyata sebagai jalan keluar atas degradasi moral (akhlak) yang tengah melanda kehidupan kita saat ini.
Upaya dini yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah dengan memberikan ASI secara eksklusif. Mengapa kok ASI? ASI adalah sumber nutrisi terlengkap dan terbaik bagi bayi dengan takaran yang pas bagi kebutuhan nutrisi bayi. Selain sebagai sumber nutrisi bagi bayi, ASI juga memiliki manfaat lain diantaranya adalah sebagai KB alami, untuk mencegah obesitas ibu setelah melahirkan, mencegah resiko kanker cervix (leher rahim) dan payudara, sebagai imunitas bayi dan mencegah penyakit infeksi,  mencegah terjadinya alergi, ekonomis, tersedia kapan saja dan dimana saja, serta manfaat psikologis bagi ibu dan bayinya.
Mengenai manfaat psikologis ini, Bahtiar HS. (2006) mengatakan bahwa menyusui bukan saja sekedar proses memberikan ASI pada bayi. Bukan saja berhubungan dengan aspek kesehatan. Lebih dari itu, menyusui juga memberikan dasar bagi kemampuan anak dalam membangun kecerdasan intelektualnya.
Disamping itu, menyusui merupakan pendidikan emosional, spiritual, dan sosial bagi bayi. Menyusui secara langsung melibatkan proses psikologis yang positif. Secara psikis, seluruh tubuh ibunya merupakan pengirim pesan tentang keadaan hati ibunya. Suhu tubuh, permukaan payudara, dan dekapan ibu mengabarkan kepada anak mengenai suasana hati ibu. Detak jantung memberikan petunjuk perasaan ibu pada anak. Juga usapan dan belaian ibu, tepukan tangan, hisapan, gigitan pada payudara, dan tangisan anak. Semua mengenalkan anak pada perubahan-perubahan pada lingkungan psikisnya. Anak belajar mengenai manusia lain, dalam hal ini ibunya sebagai orang terdekat dengan dirinya. Anak belajar berkomunikasi. Anak belajar cinta. Ini semua merupakan dasar paling awal dari akhlak alami.
Namun kenyataan yang terjadi sekarang begitu banyak ibu yang mempercayakan nutrisi anaknya pada susu formula (sapi), yang mana hal tersebut akan menjadikan anak jauh dari ibu dan mulai belajar mendapatkan nutrisi lebih dari yang diperlukannya; alias anak belajar rakus. Itu semua karena ibu harus dituntut untuk kembali beraktivitas (bekerja) ke ruang publik. Tuntutan ekonomi. Tuntutan emansipasi. Karena perusahaan biasanya hanya memberikan cuti besar maksimal 3 bulan dan   itupun sudah dipotong 1 bulan pada saat persiapan kelahiran, jadi hanya ada kesempatan 2 bulan saja memberikan ASI. Itupun kalau diberi ASI bukan susu formula.
Begitu besar hikmah yang terkandung dalam proses pemberian ASI ini hingga Al-Qur’an-pun memberikan perhatian mengenai hal ini. “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s