Perilaku Yang Masih Berantakan

Perilaku kita sehari-hari adalah gambaran nyata diri kita. Apa yang menjadi kebiasaan kita itulah sebenar karakter diri kita. Berulang kali kita mendengar istilah attitude, karakter atau caracter building, akhlak, emotional question, moral, dan kata-kata lainnya dengan makna yang sejenis. Atau bahkan kita sendiri yang sering membicarakannya, seolah-olah bahwa kita sudah benar-benar faham dan mengerti dengan kata-kata tersebut. Padahal kenyataannya???
Sekedar contoh kecil saja. Di kantor tempat saya bekerja hanya tersedia lahan parkir yang boleh dibilang sempit meskipun sebenarnya masih cukup juga untuk menampung semua motor karyawan. Sebagaimana aktivitas marketing di perusahaan lain, maka karyawan di perusahaan inipun lebih banyak beraktivitas di luar sebagai pekerja lapangan daripada menghabiskan waktunya di dalam kantor, sehingga otomatis waktu di kantor hanya sebentar saja. Datang – absen – mengikuti morning session dan laporan harian – keluar lagi beraktivitas kunjungan ke customer, nyaris hanya sekitar 1,5 – 2 jam saja di kantor.
Mungkin, karena ingin semuanya serba cepat dan beres maka yang terjadi adalah parkir menjadi semrawut. Yang datang lebih awal enggan menempati parkir yang di depan meskipun jelas-jelas masih kosong melompong dan lebih memilih menempati parkir yang dekat dengan gerbang meskipun itu akan menghalangi jalur keluar masuk kendaraan. Sudah begitu, pake acara kunci stang lagi. Otomatis jalan jadi buntu tu tu, sehingga karyawan yang datang belakangan jadi tidak kebagian tempat parkir karena jalannya terhalang oleh kendaraan yang parkir di dekat gerbang. Dengan sangat amat terpaksa, akhirnya parkir berjubel hingga meluber di jalan umum. Celakanya, ini menjadi kebiasaan meskipun himbauan untuk parkir secara baik dan benar berulang kali digembar-gemborkan.
Saya rasa gambaran seperti di atas bukan hanya terjadi di kantor saya saja, bisa jadi itu juga terjadi di tempat-tempat lain. Bukan hanya di tempat parkir, mungkin juga di jalan raya, di dalam angkutan umum dan tempat-tempat umum lainnya. Itulah gambaran perilaku kita, karakter kita, yang ternyata masih lebih mementingkan diri sendiri dibanding orang lain. Nyaris tidak memiliki kepedulian sama sekali kecuali kepedulian terhadap diri sendiri. Peduli terhadap kepentingan sendiri. Orang lain? Biar diurus sendiri. EGP (emangnya gue pikirin…).
Perilaku yang demikian inilah yang kini tengah melanda negeri ini. Rakyat disibukkan oleh usahanya untuk mempertahankan agar dapurnya tetap ngebul, sampai tetangga sebelah rumah sakit berhari-hari saja sering kita tidak mengetahuinya. Dan pejabat sibuk “bekerja” untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya, kecuali menjelang pemilu, baru mereka “sadar” dan kepeduliannya seketika tergugah untuk segera “memperhatikan” kepentingan rakyatnya. Tapi yang ini khusus rakyat yang berada di dapil-nya saja.
Lha dalah, terus kapan manusia bisa benar-benar hidup sebagai layaknya manusia, yang saling peduli terhadap sesamanya, yang peduli terhadap lingkungannya, yang peduli terhadap alamnya, yang peduli terhadap titah Tuhannya, yang peduli terhadap sunnah Rasulnya, kalau sampai detik ini sikap (attitude) kita masih begini-begini saja.
Ssssssttt, yang nulis juga masih begini-begini saja. (tolong, jangan bilang siapa-siapa ya)

Sidoarjo, 28 Desember 2012. 14.09 wib
by tedjamaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s