SEBERAPA BERHARGANYA KITA DI HADAPAN TUHAN?

Seperti halnya laut yang mengalami pasang surut, kehidupan inipun juga mengalami hal yang sama. Terkadang kita berada dalam situasi yang sangat menggembirakan namun terkadang di saat lainnya kita mengalami kesedihan yang teramat sangat. Di suatu saat kita mendapat rezeki yang berlimpah namun di saat lainnya kita dihadapkan pada situasi yang bertolak belakang, rezeki seolah enggan mendekati kita. Mungkin itulah yang dinamakan dinamika kehidupan.

Dan saya rasa semua orang pernah mengalami hal demikian cuma kadarnya saja yang mungkin berbeda, karena manusia memang dianugerahi kemampuan serta potensi yang berbeda pula. Demikian juga halnya dengan saya. Sebagai seorang karyawan dengan lebel jabatan ‘marketing’ membuat grafik keuangan saya tidak stabil. Mengapa demikian? Karena pendapatan seorang marketing sangat dipengaruhi oleh pencapaian target yang menjadi tanggungjawabnya. Jika target berhasil tercapai maka penghasilan yang diperoleh bisa dibilang lumayan – meskipun bagi orang lain mungkin biasa saja atau bahkan tak seberapa. Dan, jika pencapaiannya ternyata jauh dari target maka penghasilan bisa menurun drastis – meskipun (mungkin) masih lebih besar dibanding orang lain dengan profesi yang berbeda. Inilah dinamika kehidupan saya. Dinamika seseorang dengan profesi sebagai marketing.

Sebagaimana dinamika seorang marketing, sayapun pernah merasakan ketika berada pada posisi ‘di atas’ dan sebaliknya sayapun berulang kali merasakan ketika sedang berada ‘di bawah’. Saya pernah merasakan situasi ketika uang lima puluh ribu atau bahkan seratus ribu seolah seperti uang recehan saja. Dengan ringan tangan saya membeli ini-itu seperti layaknya saya membeli kerupuk saja – tanpa pertimbangan sama sekali. Dan dalam situasi yang berlainan, saya juga merasakan bahwa menyimpan uang sepuluh ribu di dalam dompet seperti layaknya saya tengah menyimpan uang senilai satu juta saja – berulang kali tangan ini meraba-raba, masihkah dompet itu bertahta nyaman (aman) di singgasananya. Bahkan, ketika perut ini melilit-lilit meminta jatah, tangan inipun terasa enggan untuk menarik uang yang hanya tersisa sepuluh ribu itu dari dalam dompet. “Lebih baik menderita kelaparan daripada harus mendorong motor karena kehabisan bahan bakar,” begitulah prinsip saya. Selain karena capek, mendorong motor karena kehabisan bahan bakar adalah sebuah alasan yang amat sangat memalukan. Nggak elit blas..!

Ooo ternyata, pada situasi tertentu uang sepuluh ribu memiliki ‘nilai’ yang lebih besar dibandingkan uang seratus ribu. Selembar uang sepuluh ribu terasa sangat berharga ketika kita tidak memiliki uang lagi selain yang selembar itu. Di saat seperti inilah kita akan memperlakukan uang tersebut dengan amat cermat – hanya kebutuhan yang benar-benar penting dan sangat mendesak saja yang bisa dijadikan alasan untuk menggunakan uang yang selembar itu. Lainnya tidak. Hal ini sangat berbeda ketika kita memiliki berlembar-lembar uang seratus ribu-an, dengan mudahnya kita akan membelanjakan uang tersebut – selembar demi selembar – untuk sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak sama sekali. Sering kali, dalam kondisi yang kekurangan justru kita dapat berpikir lebih jernih dan pandai menentukan prioritas, mana yang sangat penting dan sangat mendesak – sangat penting tapi tidak mendesak atau tidak penting tapi mendesak – tidak penting dan tidak mendesak.

Kenyataan inilah yang sering tanpa disadari telah kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks lain, misalnya dalam urusan shalat, sering kali kita salah dalam menentukan prioritas – saat adzan berkumandang – kita lebih memilih untuk menunda melaksanakan panggilan tersebut daripada segera ‘berlari’ untuk memenuhi panggilan itu. Dengan kata lain shalat bukan menjadi sesuatu yang berharga – sangat penting dan sangat mendesak – sehingga shalat tidak kita jadikan prioritas utama dalam kehidupan kita. Kita merasa bahwa waktu yang tersedia masih sangat panjang sehingga kita lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang penting tapi tidak mendesak atau bahkan sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak. Kalau perilaku seperti ini kita biarkan saja maka lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan. Dan jika sudah menjadi kebiasaan maka pertanyaan selanjutnya adalah seberapa berhargakah kita dihadapan Tuhan?

Sidoarjo, 15 Januari 2013. 01.01 wib

by Tedjamaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s