Mencari Musuh Demi Kesuksesan

Seorang sahabat lama datang ke rumah. Terakhir saya ketemu dengan dia sekitar empat atau lima tahun yang lalu, sedikit lupa saya. Namun pada pertemuan kali ini ada perbedaan yang sangat jauh dibanding saat saya bertemu dengannya empat tahun yang lalu. Tubuhnya lebih terawat dan pakaiannyapun nampak lebih necis. Dan yang lebih menakjubkan lagi dia datang ke rumah dengan mengendarai sebuah mobil minibus yang baru sekitar empat bulan dibelinya. Terus terang saya kaget, karena setahu saya dia itu bekerja sebagai tukang sayur keliling dan menurut informasinya hingga saat inipun ia masih berprofesi sebagai tukang sayur keliling juga. “Wah hebat kamu ya, seorang tukang sayur keliling bisa beli mobil seharga duaratusan ribu, eh maksud saya duaratusan juta?”

Diapun lantas bercerita, bahwa semua ini berkat hikmah dari “bencana” yang terjadi sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu usahanya hampir mengalami kebangkrutan, dagangannya sering tidak habis, sayur menjadi busuk, ikan tak segar lagi karena hingga siang hari tak juga laku. Usut punya usut, ternyata di sekitar kompleks perumahan tempat ia biasa menjajakan dagangannya kini telah ada pedagang sayur keliling lainnya yang datang lebih pagi dengan kualitas dagangan yang lebih bagus. Hal itulah yang membuat para pelanggannya beralih haluan. Itulah “bencana” yang dimaksud sahabat saya itu.

Akhirnya, sahabat saya itu memutar otak mencari cara untuk “mengalahkan” pesaingnya itu. “Ini adalah peperangan, jadi wajar jika harus ada yang kalah dan menang. Dan saya tidak mau menjadi pihak yang kalah. Saya harus memenangkan peperangan ini,” begitu ia menceritakannya kepada saya. Semangatnya saya rasakan masih menyala-nyala. Ia membuat inovasi. Rombong ia buat lebih elegan dan ia hanya mau menjual dagangan yang benar-benar berkualitas begitu juga dengan jam kedatangannya. Sangat luar biasa, kurang dari enam bulan sejak ia melakukan inovasi itu, ia ditunjuk oleh salah satu restoran untuk menjadi suplier sayur mayur. Dan ia segera mencari mitra kerja untuk menggantikannya berkeliling. Dan saat ini, ia telah memiliki lima buah rombong sayur keliling serta empat restoran yang harus ia suplai kebutuhan sayur mayurnya. Itulah tonggak awal keberhasilannya.

Berdasarkan pengalaman sahabat saya tersebut, kita bisa belajar bahwa musuh (pesaing) kita yang paling membencikan itu ternyata dialah sosok “malaikat kecil” yang dikirim Tuhan untuk kesuksesan kita. Boleh jadi hingga kini kita masih membencinya tapi jangan lupa pula untuk berterima kasih kepadanya. Bukankah kehadirannya telah mampu membangkitkan semangat kita? Semangat untuk memenangkan pertempuran. Semangat untuk menjadi yang terbaik. Bukankah kehadirannya telah membuat kita pintar? Membuat kita lebih kreatif dan lebih mahir dalam melakukan inovasi? Jadi sudah wajar jika kita harus menganak emaskan musuh-musuh kita itu.

Selanjutnya, bagi Anda yang hingga saat ini belum sukses dan ingin segera menjadi orang yang sukses maka saran saya, segera Anda mencari musuh sebanyak-banyaknya, agar Anda memiliki tantangan untuk mengalahkannya. Semangat berjuang dan semoga Anda yang menjadi pemenang.

 

Surabaya, 05 Januari 2013. 11.50 wib (Di kantor Medokan)

by Tedjamaja

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s