Sepatutnya Kita Malu!

Ketika segalanya sudah menjadi komoditi, maka tak ada lagi yang gratis di dunia ini. Semuanya akan dikomersialisasikan, “hanya meludah saja yang gratis,” begitu kata orang Jakarta. Dan hal ini akan berujung pada meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Kalau dulu kebutuhan dasar hidup manusia hanya terdiri dari sandang, pangan, dan papan. Kini, tak lagi hanya sebatas itu saja. Beragam kebutuhan lainnya pun menunggu untuk dipenuhi. Sehingga rasanya menjadi ‘wajar’ jika saat ini banyak orang yang stres karena bingung untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik itu. Mengumpat, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan Tuhan-pun seringkali dilakukan, namanya juga lagi stress, tapi apa ya mesti seperti itu?

Bukankah seharusnya manusia dengan segala potensi yang dimiliki bisa ‘mengatasi’ setiap keadaan yang terjadi, sejelek dan seburuk apapun kondisi itu. Tuhan tidak sembarangan lho dalam menciptakan manusia? Tuhan telah mendesain dan merancang manusia dengan sedemikian rupa, bukan sekedar tahan terhadap goncangan dan air, tapi lebih dari itu, ada sistem yang sangat kompleks dalam tubuh manusia yang bekerja untuk mengkondisikan fisik maupun psikis manusia. Jadi, apa dasarnya dong, manusia untuk mengumpat dan menyalahkan keadaan?

Coba kita bercermin dari kehidupan cicak. Seekor cicak, sehari-hari hidupnya merayap di dinding, di celah-celah batu, di batang pohon dan sebagainya. Lha anehnya, makanan cicak adalah nyamuk yang notabene hidupnya terbang bebas di angkasa. Hanya sekali-kali saja nyamuk itu hinggap di dinding. Ini yang saya bilang aneh! Habitatnya di dinding kok dapat jatah makanan hewan yang terbang, susah kan? Tapi nyatanya tidak pernah kan, kita mendengar ada nyamuk yang mati karena kelaparan, tapi kalau manusia pernah. Cicak sangat sabar dalam menunggu ‘rezekinya’. Ia sangat optimis dalam menghadapi kehidupannya dan berjuang tak kenal lelah meskipun berkali-kali gagal. Sekali gagal, coba. Gagal yang kedua, coba lagi, begitu seterusnya. Inilah hebatnya cicak! Filosofinya sederhana, “tak penting, berapa kali kita pernah gagal, yang terpenting adalah berapa kali kita mampu bangkit setiap kali mengalami kegagalan”. Lantas yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa ya pantas jika kita sebagai manusia dengan segala potensi yang dimiliki terus mengeluh karena dihadapkan pada situasi dan kondisi yang kurang baik?

Surabaya, 16 Februari 2013. 12.40 wib.

By tedjamaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s