Mudik dan Fitrah Manusia

 Sudah lazim terjadi di negeri ini, setiap mendekati akhir Ramadhan, orang-orang pada sibuk menyiapkan diri untuk kembali ke kampung halaman. Ada semacam kerinduan yang dalam untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak famili di kampung halaman, terutama bagi mereka yang hidup di perantauan. Dan lebaran dianggap sebagai momentum yang tepat untuk itu, sebab pada Hari Raya Idul Fitri ini ada dimensi keagamaan di dalamnya, ada (semacam) keharusan untuk sungkem kepada kedua orangtua atau orang yang di-tua-kan, ada legitimasi bahwa seolah-olah lebaran adalah saat yang tepat untuk melakukan ziarah ke makam-makam leluhur, dan berbagai alasan lainnya. Kegiatan semacam ini biasa kita kenal dengan istilah mudik (lebaran).

Menurut sebagian pendapat, mudik berasal dari kata “kembali ke udik (desa/ pedalaman)” dan sebagian lainnya berpendapat bahwa mudik berasal dari kata “mulih dhisik”, yang dalam Bahasa Jawa berarti “pulang dulu”. Sedangkan dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata “mudik” yang berlawanan dengan kata “milir”. Bila “mudik” berarti pulang, maka “milir” berarti pergi.

Kebiasaan pulang kampung menjelang lebaran ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam. Meskipun sebenarnya mudik bukanlah tradisi turun temurun dari bangsa ini dan sama sekali tidak terkait dengan lebaran, karena istilah mudik baru ditemukan pada kisaran pertengahan tahun 70-an, setidaknya ini menurut Maman S. Mahayana dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Mudik di Indonesia dan Korea” (2011). Meski begitu mereka tak peduli, pulang ke kampung halaman adalah suatu kerinduan yang harus segera dicarikan obatnya dan bisa berkumpul dengan keluarga yang terpisah sekian lamanya merupakan kebahagiaan tersendiri. Oleh karena itu, mereka tidak mempedulikan lagi dengan segala resiko dan berbagai kesulitan yang dihadapi selama menempuh perjalanan ke kampung halaman. Seperti: harus berdesak-desakan di dalam kereta, berjubel di dalam bis, harga tiket yang cenderung lebih mahal dibanding hari-hari biasa, dan kemacetan yang cukup panjang selama perjalanan, belum lagi resiko kecelakaan, dan sebagainya. Semua dilakukan demi bisa merayakan hari kemenangan dan berkumpul dengan sanak famili di kampung halaman.

Fitrah Manusia

Menurut Murtadha Muthahhari, ‘fitrah’ merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia (bawaan) dan bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha sejak lahir. Sedangkan dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti memulai dan mencipta. Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa ‘fitrah’ adalah penciptaan awal atau asal kejadian. ‘Fitrah’ adalah kondisi “default factory setting”, suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Dan pada dasarnya manusia merupakan mahluk religius, mahluk yang memiliki kesadaran keberagamaan yang pada tingkat tertentu dapat menjadi spirit yang sangat dominan. Seluruh kehendaknya digerakkan oleh kekuatan raksasa yang seringkali sulit dikendalikan. Bahkan kekuatan rasio sekalipun tidak lagi mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan penyeimbang sehingga akhirnya ia pasrah atas kehendak itu. (Miftah Faridl, 2002).

Kalau bukan atas dasar dorongan keimanan yang kuat, mustahil ummat Islam mampu melewatkan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Dorongan keimanan itulah yang membuat ummat Islam di dunia rela menahan lapar dan dahaga di tengah terik matahari yang menyengat. Rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk ber-zakat serta untuk ibadah-ibadah lainnya. Dorongan keimanan ini merupakan salah satu fitrah yang dimiliki oleh manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Al- Qur’an Surat Ar- Ruum [30] ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Dan juga senada dengan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Tidaklah seseorang itu dilahirkan melainkan ia telah berada di atas fitrah. Maka ayah dan ibunya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (HR. Bukhari).

Pun demikian dengan peristiwa mudik yang terjadi setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pulang ke kampung halaman bukan sekedar untuk pulang begitu saja. Melainkan hal itu terjadi karena adanya dorongan yang begitu kuat muncul dari dalam hati, ada (semacam) kekuatan raksasa yang menggerakkan manusia untuk kembali ke kampung halamannya. Kembali ke tempat asal kehadirannya di dunia. Audifax dalam bukunya “Self Transformation: Sastra Jendra, Energi Minimal dan Citra Illahi Dalam Diri” (2009) menyebut kekuatan raksasa ini dengan istilah “diri yang sejati”. Karena kekuatan itulah sehingga manusia rela menempuh perjalanan jauh tanpa mempedulikan lagi dengan berbagai kesulitan dan resiko yang mungkin akan dihadapi selama menempuh perjalanan itu.

Meskipun untuk pulang ke kampung halaman bisa dilakukan setiap waktu, akan tetapi kepuasan yang didapat tentu sangat jauh berbeda jika dibandingkan pulang pada saat menjelang lebaran. Pulang ke kampung halaman pada hari-hari biasa terasa kurang memiliki nilai spiritual sedangkan pulang ke kampung halaman pada saat menjelang lebaran sarat dengan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Tentunya pasti kita bisa membedakan, pergi ke Mekkah dalam rangka bisnis dengan pergi ke tempat yang sama dalam rangka menunaikan ibadah haji. Getaran yang muncul dari dasar hati kita tentu akan sangat jauh berbeda. Begitu pula yang dirasakan oleh para pemudik. Inilah gambaran nyata bahwa secara spiritual manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Innalillahi wa inna illahi roji’un.

Jadi, pada hakekatnya mudik merupakan refleksi kesadaran manusia untuk melepas kerinduannya kepada kampung akherat, yang tergambar pada kampung halaman tempat asal kehadirannya di dunia. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa mudik, pulang kembali ke kampung halaman merupakan bagian dari perjalanan spritual manusia untuk kembali ke asal, kembali ke Dzat Sang Maha Pencipta. Barangkali ini yang dimaksud dalam falsafah Jawa dengan ungkapan “sangkan paraning dumadi”. Wallahu’alam.

Jombang, 5 Agustus 2013. 23.20 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s