TAK ADA JAMINAN ATAS KESHALEHAN KITA

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sungguh, Engkau Maha Pemberi (karunia)”. (QS. Ali Imran [3]: 8)

Alkisah, pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, orang yang sangat populer kesalehannya. Murid dan pengikut setianya sampai 60.000 orang. Hampir semua bisa terbang karena kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha. Para malaikat pun kagum pada Barshisha. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat, agar tidak tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.kata Allah.

Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru. Selama belajar, iblis hanya beribadah. Tidak makan dan minum sama sekali. Barshisha bertanya, “Bagaimana kamu bisa beribadah sekian lama? Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari? Aku yang telah beribadah bertahun-tahun belum bisa melakukan seperti kamu?Iblis menjawab, “Saya begini karena saya telah banyak melakukan dosa. Saya bertobat secara sungguh-sungguh. Maka, lakukan zina atau membunuh orang terlebih dahulu, lalu bertobatlah. Baru tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah.”

Jelas Barshisha menolak. Tapi dengan kepandaiannya iblis dapat merayu Barshisha, akhirnya ia pun mau meminum khamer. “Tak apa, itu hanya dosa kecil, dan lebih mudah diampuni Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” bisik iblis memberi dorongan.

Barshisha pun berangkat menuju kedai miras yang penjaganya adalah seorang perempuan berparas cantik. Setelah minum sedikit dan mabuk, ia tergiur dengan kecantikan paras wanita itu, dan terjadilah perzinaan.

Sial. Ia kepergok suami wanita itu. Barshisha cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus: minum khamer, zina, dan membunuh. Barshisha ditangkap dan dihukum mati. Di tiang gantungan, ia didatangi iblis, “Maukah kamu saya tolong agar lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan kepala sejenak kepadaku.Barshisha melakukan perintah iblis itu, dan seketika ia menghembuskan nafas yang terakhir.

Selanjutnya, mari kita simak kisah berikutnya.

Pada tahun 800-an Masehi, hiduplah pemuda yang terkenal kaya, Abu Nashr, Bisyri bin al Harits. Tiada hari ia lewati tanpa mabuk dan foya-foya. Suatu hari, ia berjalan terhuyung-huyung karena baru saja menenggak beberapa botol miras. Dalam perjalanan itu, ia menemukan secarik kertas kusut bertuliskan bismillahirrahmanirrahim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Penyayang). Ia membacanya dengan senyum bahagia. Dibacanya sampai berulang kali. Setelah mencium kertas temuannya itu, ia mengambil minyak mawar untuk dipercikkan di atasnya, lalu menyimpannya di tempat yang sangat istimewa.

Pada malam hari berikutnya, seorang syekh mendapat perintah dalam mimpinya, “Carilah seorang pemuda dengan ciri-ciri begini-begitu, dan katakan, bahwa Allah telah mengharumkannya, karena ia telah mengharumkan nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena ia telah memuliakan-Nya.Syekh itu penasaran, siapa dan di mana pemuda itu?

Setelah sekian hari dicari, syekh berhasil menemukan pemuda dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam mimpi. Tapi syekh ragu, karena ada mau miras yang menyengat dari mulut pemuda itu. “Mungkinkah pemuda seperti ini diharumkan dan dimuliakan Allah? Tanya syekh dalam hati berulang kali. Untuk menghilangkan keraguan, syekh mengambil air wudhu dan shalat malam. Ternyata ia memperoleh mimpi yang sama. Sampai malam yang ketiga, mimpinya juga tetap sama, tetap mengisyaratkan pemuda dengan ciri-ciri semula.

Pagi buta, syekh berangkat menemui sang pemuda. Syekh kaget tidak kepalang, pemuda itu ditemukan sedang berpesta miras dengan rekan-rekannya. Pemuda itu menolak diajak bicara dan selalu menyebut salah sasaran. Akan tetapi, setelah syekh meyakinkan apa yang diperoleh dalam mimpinya, pemuda itu dengan senang hati mendengar petuahnya. “Anda orang terpilih. Allah mencium Anda, karena Anda mencium kertas bertuliskan nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena Anda telah memerciki minyak wangi mawar dan menempatkan kertas bertuliskan Kasih-Nya ditempat terhormat. Begitulah kira-kira petuah syekh kepada pemuda itu.

Pemuda itu pun bertobat. Ia bersungguh-sungguh belajar dan menjalankan agama, sampai dikukuhkan masyarakat sebagai salah satu syekh kharismatik di Irak.

Sahabat, marilah bersama kita renungkan kedua kisah di atas. Kebaikan yang kita lakukan hari ini ternyata bukan jaminan bahwa hal itu akan membawa kebaikan di hari esok. Untuk itu, sepatutnya kita senantiasa bermunajat kepada Allah, Sang Pemilik Kebaikan dan Kebenaran, agar senantiasa menuntun langkah kita untuk mendaki jalan kebenaran sebagaimana yang diridhoi-Nya. Dan sebaliknya, tak perlu kita memandang sinis pada para pelaku maksiat (kejahatan), karena bisa jadi suatu saat ia akan diberi petunjuk oleh Allah dan menjadi orang yang shaleh melebihi keshalehan kita. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s