Manusia Itu Hebat

Manusia itu hebat. Diciptakan sebagai mahluk terbaik dan tentu saja untuk melakukan hal-hal yang baik pula. Oleh sebab itulah manusia diangkat derajatnya oleh Tuhan sebagai wakil-Nya di muka bumi ini dengan harapan agar mampu tampil sebagai ummat terbaik yang akan membawa kemakmuran bagi semesta. Inilah dasar penciptaan manusia. Fitrah manusia. Senang pada kebenaran dan kebaikan, karena sesungguhnya manusia adalah mahluk kebenaran dan kebaikan.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tin [95]: 4).

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar Rum [30]: 30).

Jadi, berpijak pada kebenaran dan senantiasa melakukan kebaikan adalah hal biasa yang memang seharusnya dilakukan oleh manusia. Karena memang seperti itulah sifat dasar manusia; ia selalu rindu pada kebenaran dan kebaikan. Namun sebaliknya, jika ada orang yang jauh dari kebaikan apalagi kebenaran maka patut dipertanyakan ke-manusia-annya? Jangan-jangan itu mahluk lain yang berwujud (serupa) manusia?

Wallahu’alam…

Btw, saya manusia bukan ya…?!

Iklan

Menjadi Ibu Yang Ramah Keluarga

Menjadi Ibu Yang Ramah Keluarga

Dewasa ini, perempuan bekerja adalah hal yang sudah sangat lazim terjadi. Berbagai alasan dikemukakan, mulai untuk mencukupi kebutuhan keluarga (karena gaji suami tidak cukup); mengembangkan karier; kesetaraan gender; atau ingin menjadi wanita mandiri yang tidak hanya bergantung pada laki-laki. Apapun alasannya, hukum perempuan bekerja tetaplah sah.

Namun harus diingat, perempuan tetaplah perempuan. Ia memiliki kodrat dan jati dirinya sendiri. Ketika seorang perempuan sudah bersuami, maka ia memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai seorang istri. Dan ketika ia sudah dikaruniai Baca lebih lanjut

Prihatin Ataukah Memprihatinkan?

Menurut Muhammad Ali as-Sabuni, terdapat beberapa hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa, diantaranya, puasa merupakan bentuk penghambaan diri (manusia) kepada Allah SWT, bentuk ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya. Di dalamnya terdapat pendidikan bagi jiwa agar senantiasa dapat menahan diri dan selalu tabah dalam menghadapi ujian dalam menempuh dan melaksanakan perintah-Nya. (Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam, 2007)

Sebagian orang mengatakan, puasa sebagai laku prihatin, yakni sebuah upaya untuk turut merasakan kondisi kekurangan, kelaparan, dan sejenisnya, sehingga akan tumbuh rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama dan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun sayangnya, kita kerap berlebih-lebihan pada saat berbuka puasa. Lha, kalau seperti ini, sebenarnya kita sedang prihatin atau malah memprihatinkan? Wallahu’alam.

Puasa Apa Pesta?

Menu buka puasa dan takjil hari ini: kolak pisang, sup buah, es cendol, aneka gorengan, agar-agar, nasi pecel, semur daging, dan empal goreng.

Lho, puasa apa pesta ya?

Katanya, puasa itu menahan diri? Katanya, makanlah setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang?

Lha kok?!

?????!!!!!

WARNING!

WARNING! Puasa hanya diwajibkan bagi ummat yang beriman. Jadi, bagi yang tidak berpuasa ya monggo saja, silahkan saja, tapi siap-siap saja menerima resikonya. Akan diklaim Allah sebagai hamba yang tidak beriman.

Na’udzubillah…

Kapitalisasi Pahala

Kapitalisme adalah suatu paham atau suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Segala sesuatu selalu diperhitungkan berdasarkan untung dan rugi. “Saya melakukan apa, saya akan dapat apa? Saya mengeluarkan berapa dan saya akan untung berapa?”

Sadar atau tidak, ternyata kita masih sering berpikir demikian, meskipun mulut kita sering koar-koar menolak paham kapitalisme ini. Mentang-mentang bulan Ramadhan, dimana pahala dilipat gandakan, kita lantas jor-joran, pol-polan, full speed, berlomba untuk mengumpulkan pahala. Memang bagus sih, luar biasa, namun sayangnya semangat ini (biasanya) tidak mampu dipertahankan hingga ba’da Ramadhan. Jadi terkesan aji mumpung, mumpung lagi ada obral pahala, mumpung lagi ada diskon besar-besaran, dan mumpung-mumpung yang lainnya. Lha, ini kan sama persis dengan pandangan orang-orang kapitalis tho, ”modal kecil, untung besar. Bayar sedikit, dapatnya banyak”.

Insyaallah, sampeyan tidak termasuk kok.

Kasihan Setan

Salah satu keutamaan bulan Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan yang notabene selama ini diklaim sebagai biang kejahatan di muka bumi ini. “Apabila telah masuk bulan Ramadhan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan pun terbelenggu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lha, kini Ramadhan telah tiba dan apakah kejahatan hilang di atas muka bumi ini? (seiring dengan dibelenggunya setan).

Jawabannya, ternyata tidak! Berita tentang pencurian, pencopetan, bahkan aksi makar masih saja berlangsung di bulan ini. Ternyata, untuk berbuat jahat sesungguhnya tak butuh campur tangan setan. Kejahatan sudah menjadi tabiat manusia itu sendiri.

Kalau sudah tahu begini, apakah kita akan terus menyalahkan setan atas kejahatan yang kita lakukan sendiri? Sungguh, kasihan sekali setan. Wallahu’alam bishawab.